Kepribadian (bagian 1)
Kepribadian ada banyak, banget, nget, nget
Kepribadian, sebenarnya ada banyak sekali, bahkan terlalu banyak. Saking banyaknya, pada hakikatnya, kita tidak mungkin mengklaim satu orang adalah salah satu dari tipe A, B, C, dst, yang menggambarkan cara seseorang berperilaku dalam kesehariannya.
Untuk beberapa kasus, bisa jadi ada kecocokan antara seseorang dengan SATU tipe tertentu, tetapi kebanyakan orang tidak akan mencocoki HANYA SATU tipe. Mereka umumnya akan mencocoki beberapa perilaku dari setiap tipe yang ada.
Contohnya, dalam kepribadian 4 warna, seseorang bisa saja memiliki sifat warna kuning yang periang dan optimis, tetapi bisa jadi dalam kasus tertentu ia menunjukkan sifat biru yang hati-hati dan suka berpikir. Bukanlah hal yang mustahil, bahwa seseorang dapat mencocoki setiap warna dalam kondisi-kondisi yang berbeda.
Lantas, apakah ini adalah masalah? Mari kita melangkah sedikit mundur ke belakang
Kenapa kita peduli dengan kepribadian?
Jawaban yang normal adalah karena seseorang ingin mengenali dirinya sendiri. Kemudian ia akan menempelkan, pada dirinya sendiri, label identitas yang mencocoki kepribadiannya.
Secara singkat, seseorang biasanya mempelajari kepribadian untuk mencari identitas. Dengan adanya identitas, seseorang bisa mengatakan "Kepribadianku itu Kuning" atau yang semisal dengan itu.
Sementara itu, jawaban yang lebih elegan dan berbobot adalah, secara umum, kita ingin mengetahui beberapa hal seperti:
- Dari mana perbedaan karakteristik tiap orang berasal?
- Apa pengaruh perbedaan karakteristik tersebut terhadap kualitas kehidupan seseorang?
- Bisakah pengetahuan ini menciptakan kehidupan yang lebih baik di masa depan?
- Bisakah kita membuat prediksi berdasarkan pengetahuan ini? [1] [2]
Secara spesifik, dan ini adalah pokok bahasan kita kali ini, dengan mempelajari kepribadian, kita ingin mendapatkan 3 manfaat:
- MENJELASKAN mengapa seseorang melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan
- MEMPREDIKSI apakah seseorang akan melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan.
- MEMANIPULASI seseorang (boleh jadi diri sendiri) agar ia melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan
Apakah Tujuan Mempelajari Kepribadian Dapat Tercapai?
Sekarang kita kembali ke pertantaan awal: apakah mencocoki banyak kepribadian adalah masalah?
Jawabannya:
-
Jika tujuan seseorang mempelajari kepribadian hanyalah untuk mencari identitas, yaitu memberi label tertentu pada dirinya sendiri, maka mencocoki banyak kepribadian bukanlah suatu masalah. Seseorang dapat memilih dan mengubah label pada dirinya sesuai kebutuhannya.
Misalnya, dalam kepribadian Myers-Briggs yang berjumlah 16, seseorang merasa dirinya adalah INTP meskipun pada titik tertentu ia juga mencocoki kepribadian lainnya, maka dia boleh-boleh saja mengklaim bahwa dirinya INTP dan di waktu yang lain mengklaim bahwa dirinya adalah tipe yang lain. Tidak ada masalah dalam hal ini.
Label hanyalah label, tidak jauh beda dengan julukan. Jika seseorang memiliki julukan yang keren pada awal ia mendapat julukan tersebut tetapi suatu saat ia merasa julukannya sudah tidak begitu keren kemudian menggantinya, tidak ada yang akan dirugikan.
Jika seseorang mencocoki banyak tipe kepribadian, tujuan mempelajari tipe-tipe kepribadian tersebut masih bisa tercapai.
-
Jika tujuan seseorang mempelajari kepribadian adalah untuk mendapatkan 3 manfaat seperti yang telah disebutkan di atas (menjelaskan, memprediksi, dan memanipulasi), tentu saja mencocoki banyak kepribadian adalah suatu masalah besar.
Jika seseorang mencocoki banyak tipe kepribadian, akan sulit untuk menentukan alasan seseorang melakukan suatu tindakan, memprediksinya, apalagi memanipulasinya. Ini karena tipe-tipe yang berbeda memiliki alasan yang berbeda dalam melalukan hal yang sama. Selain itu, mereka akan melakukan hal yang berbeda untuk alasan yang sama. Jika seseorang sulit untuk dijelaskan dan diprediksi, tentunya memanipulasinya akan menjadi lebih sulit lagi.
Jika seseorang mencocoki banyak tipe kepribadian, tujuan mempelajari tipe-tipe kepribadian tersebut akan sulit untuk dicapai.
Jawaban yang kita gunakan dalam pembahasan ini adalah jabawan kedua. Kita ingin mempelajari kepribadian untuk menjelaskan alasan di balik tindakan seseorang, bisa jadi keluarga, teman dekat, atau bahkan musuh kita. Kita ingin memprediksi tidakan-tindakan mereka. Pada titik tertentu, kita mungkin akan mencoba untuk memanipulasi tindakan-tindakan tersebut.
Untuk mencapai tujuan tersebut, kita harus menentukan kepribadian seseorang dengan benar. Seseorang tidak boleh mencocoki banyak kepribadian. Bahkan, seharusnya ia hanya mencocoki satu kepribadian yang jelas. Untuk itu, kepribadian yang dipelajari haruslah jelas, konkret, dan objektif.
Tipe Kepribadian yang Banyak Beredar
Kepribadian adalah salah satu cabang psikologi. Akan tetapi, pada awalnya, cabang tersebut tidak dianggap sebagai disiplin ilmu tersendiri dalam psikologi. Artinya, pada awalnya kepribadian tidak dipelajari secara khusus. Psikologi Kepribadian (Personality Psychology) baru dianggap sebagai disiplin ilmu tersendiri sekitar akhir 1930-an setelah Ross Stagner dan Gordon W. Allport masing-masing menerbitkan buku pelajaran (textbook) tentang kepribadian. [3]
Pada pertengahan abad ke-20 (1900-an), mulai banyak teori tentang kepribadian yang bermunculan. Beberapa di antaranya adalah:
- DISC Model of Behavior
- Myers-Briggs Type Indicator
- Eysenck's Personality Theory
- Cattel's 16 Personality Factor Theory
- Enneagram of Personality Theory
- Five-Factor Model of Personality
Perlu dibedakan antara teori tentang kepribadian dan tes kepribadian. Teori kepribadian adalah teori atau pemikiran terkait kepribadian manusia seperti darimana asalnya, bagaimana pembagiannya, apa saja kecenderungannya, bagaimana ciri-cirinya, dll. Teori kepribadian akan mendasari suatu tes kepribadian. Satu teori kepribadian bisa jadi memiliki satu atau lebih tes kepribadian.
Misalnya, berdasarkan Five-Factor Model of Personality, ada banyak tes kepribadian yang beredar dan memiliki nama tes tersendiri seperti Hogan Personality Inventory (HPI), Revised NEO Personality Inventory, dan HEXACO Model of Personality Structure. Biasanya tes kepribadian ditandai dengan adanya kata "test", "inventory","assessment", atau "questionaire".
Permasalahan pada Teori dan Tes Kepribadian
Kebanyakan teori kepribadian tersebut memiliki permasalahan yang sama, yaitu oversimplification. Mereka membagi kepribadian manusia menjadi beberapa tipe tertentu dan secara teori kita akan termasuk ke dalam salah satu dari tipe-tipe yang ada. Tipe yang disediakan berkisar antara 2 sampai 16 tergantung teorinya.
Padahal, pada kenyataannya kita bisa bertemu dengan 2 orang bertipe sama dan keduanya akan melakukan hal yang berbeda untuk alasan yang sama, atau melakukan hal yang sama untuk alasan yang berbeda. Ini karena sejatinya memang mereka berdua berbeda pada beberapa hal tetapi tes kepribadian tidak mampu menangkap perbedaan itu.
Sebagai contoh, seseorang bertipe INTP menurut MBTI test dideskripsikan sebagai orang yang introverted-intuitive-thinking-perceiving. Yaitu secara umum tidak begitu menyukai keramaian, berpikiran terbuka dan imajinatif, mengutamakan logika daripada perasaan, dan lebih terbuka terhadap kemungkinan sehingga tidak begitu terikat dengan rencana dan target.
Akan tetapi pada kenyataannya, ada INTP yang jarang terlambat dan ada yang sering terlambat. Ada yang ingin menjadi ketua dan ada yang tidak berniat sama sekali. Ada yang dapat berlogika dengan sangat baik dan ada yang lemah logikanya. MBTI atau personality test lainnya tidak dapat melihat perbedaan-perbedaan ini.
Belum lagi jika kita lihat pada kekonsistenan hasil dari tes-tes tersebut, akan ditemukan banyak orang yang berpindah-pindah tipenya. Sekali lagi, oversimplification dapat disalahkan untuk hal ini.
Paling Valid
Teori kepribadian yang paling direkomendasikan untuk digunakan saat ini adalah Five-Factor Model of Personality. Teori ini menyediakan 5 faktor yang membedakan sifat tiap inividu dalam skala kontinu. Dengan begitu, seseorang yang mengikuti tes tersebut tidak akan dimasukkan ke dalam tipe tertentu, melainkan hanya diberi data skor dari kelima faktor yang mendeskripsikan kepribadiannya.
Hal yang perlu dicatat dalam Five-Factor Model of Personality adalah setelah kita mengikuti tes, pada hakikatnya kita tidak akan menemukan hal baru apapun tentang diri kita. Apa yang tertera pada hasil tes tersebut hanyalah apa yang kita ketahui tentang diri kita. Hanya saja, apa yang telah kita ketahui, melalui tes tersebut, disimpulkan dengan cara yang efektif sehingga kita dapat melihat gambaran keseluruhan kepribadian kita dengan lebih baik.
Sebagai dampaknya, apapun yang kita ketahui tentang diri kita, itulah hasil yang akan kita dapatkan. Karena itu, meskipun dianggap memiliki hasil yang konsisten untuk pengujian yang berulang kepada seseorang, tes ini tetap dapat berubah-ubah sesuai pemahaman seseorang tentang dirinya sendiri.
Selain itu, teori ini hanya menjelaskan tentang perilaku seseorang, tetapi tidak digunakan untuk 'menebak' perilaku orang tersebut karena memang merupakan gambaran umum yang cukup sederhana. Untuk menebak perilaku seseorang, kita butuh informasi yang lebih spesifik. Jika hanya menggunakan informasi yang sederhana, akan sulit untuk menebak perilaku seseorang karena kenyataannya perilaku kita sangat-sangat beragam dan tidak termuat hanya dalam 5 faktor dalam skala kontinu. Ketika perilaku seseorang sulit untuk ditebak, akan lebih sulit lagi untuk memanipulasinya.
Meskipun teori kepribadian ini sangat direkomendasikan untuk digunakan dalam menjelaskan kepribadian seseorang, kita tidak akan berfokus pada teori ini karena tidak dapat memenuhi seluruh tujuan awal kita, yaitu menjelaskan, memprediksi, dan memanipulasi perilaku seseorang. Kita akan menggunakan teori yang lain, yaitu induknya.
Induk dari Five-Factor Model of Personality
Teori Five-Factor Model of Personality baru dikembangkan pada 1980-an dan sejatinya merupakan penyederhanaan dari teori Cattel's 16 Personality Factor yang dikemukakan oleh Raymond Cattel pada sekitar 1950-an. Konsep yang digunakan oleh Cattel sama seperti Five-Factor Model of Personality (karena memang teori tersebut adalah penyederhanaan dari teori Cattel), yaitu kepribadian seseorang diukur dengan beberapa faktor pada skala kontinu. Hanya saja, Cattel memiliki 16 faktor, bukannya 5.
Teori Cattel berasal dari 4000-an kosakata terkait kepribadian dalam bahasa inggris yang dikemukakan oleh Gordon Allport. Kosakata ini kemudian direduksi hingga menjadi 16 faktor yang paling dominan dengan menggunakan metode statistik, yaitu analisis faktor.
Teori Cattel inilah yang akan kita kembangkan kembali untuk mencapai tujuan kita dalam mempelajari kepribadian, yaitu menjelaskan, memprediksi, dan memanipulasi perilaku seseorang. Pengembangan tersebut akan kita bahas pada bagian 2
Lanjutkan ke Bagian 2
Referensi
- "Why Study Personality". empowercommunityhealth.org. Diakses 30 Oktober 2021
- "What is Personality Psychology"?. mypages.unh.edu. Diakses 30 Oktober 2021
Comments
Post a Comment