Review Laptop Bekas: Lenovo ThinkPad X230 (Versi Jepang)| Bagaimana Performanya di Tahun 2022?

Bismillah, Intronya Intro

Artikel kali ini akan sedikit panjang.... oke maksudku sangat panjang. Jadi, akan kusediakan Table of Contents sehingga kalian bisa langsung SKIP ke pembahasan yang ingin kalian baca. Tinggal klik bagian yang mau kalian baca, dan kalian akan di-TELEPORT ke sana. Semoga kalian suka (dan tahan) membaca artikel yang kubuat. Semoga bermanfaat. (Oh ya, Table of Contents-nya keliatan panjang, tapi sebenernya tiap-tiap bagian ada yang panjang dan ada yang pendek banget. Gak panjang semua, kok)

Table of Contents

Intro

Mungkin di antara kalian ada yang bernasib sama sepertiku: membutuhkan laptop murah dan bagus, berhasil menemukannya, tapi masih kurang yakin dan ingin mencari review-nya, dan sayangnya tidak banyak yang me-review laptop itu dengan baik. Itu memang sedikit menyebalkan. Yang kulakukan di kala itu adalah mencoba-coba keberuntungan untuk memilih satu merek di satu toko online; barangkali aku akan mendapatkan unit laptop sebagus yang dapat kubayangkan.

Aku tidak akan mengatakan bahwa ini adalah kejadian yang wajar dan aku tidak menjamin bahwa ini akan terjadi pada semua orang yang juga ‘coba-coba’, sebaliknya aku merasa bahwa aku sangat-sangat beruntung karena unit yang kudapatkan memiliki performa dan kondisi fisik yang sangat baik; jauh melebihi ekspektasiku. Aku beberapa kali melihat review laptop bekas dengan merek yang sama atau dengan spesifikasi yang sama, namun performanya jauh lebih buruk daripada unit yang ku-review ini. Kalau kalian ingin membeli laptop bekas juga, pastikan unit yang akan kalian beli memiliki kondisi yang masih bagus dan ini tercermin dari minimnya bekas pemakaian. Kalau bisa, usahakan untuk melihat performanya terlebih dahulu sebelum benar-benar membelinya; misalnya, performa ketika browsing, apakah banyak lag atau tidak. Dengan begitu, semoga saja kalian akan mendapatkan laptop bekas dengan kualiatas yang memuaskan seperti unit yang kudapatkan ini.

Di sini, aku akan me-review unit laptop tersebut, yang baru saja sampai ke rumahku beberapa hari yang lalu, dan berbagi informasi yang mungkin akan kalian butuhkan. Barang kali, dengan tulisan ini kalian bisa menilai merek dan tipe laptop yang kalian butuhkan dengan lebih baik. Namun, perlu diingat bahwa unit yang ku-review ini adalah salah satu unit dengan kondisi yang terbaik dari versi bekas laptop ini. Kalau kalian membeli ini juga atau laptop lain dengan spesifikasi yang sama, bisa jadi kalian mendapatkan performa yang sama seperti yang akan kujelaskan, tetapi bisa jadi juga kalian mendapatkan performa yang tidak sebagus itu. Yang jelas, ini adalah versi dari salah satu yang terbaik yang munkin kalian dapatkan. Intro-nya kita cukupkan sampai di sini, mari kita mulai review laptop Lenovo ThinkPad X230.

Pertama Kali Dirilis

Lenovo ThinkPad X230 sebenarnya adalah laptop keluaran tahun 2012 yang, secara lebih spesifik, mulai dijual pada bulan Juni tahun tersebut (sumber: https://www.engadget.com/2012-05-31-lenovo-thinkpad-x230-review.html), tetapi unit yang kudapat tampaknya baru lahir tahun 2013 karena di bagian slot baterai laptop ini terdapat stiker kode produksi yang menunjukkan bahwa unit ini diproduksi bulan Maret, 2013. Waktu itu, sepertinya aku masih SD dan sedang dalam masa-masa persiapan UN. Itu artinya, jika dihitung, laptop ini sudah berusia hampir 9 tahun; cukup tua untuk ukuran usia sebuah laptop.

Meskipun begitu, laptop ini masih dapat berjalan secara normal (bahkan ‘berlari’ secara normal). Satu hal yang menunjukkan usia dari laptop ini adalah daya tahan baterainya yang sudah tidak begitu mengagumkan dan ini akan kita bahas lebih lanjut di bagian pembahasan baterai laptop ini.

Harga

Perlu kita perhatikan juga, bahwa pada masa awal-awal kemunculannya (2012), laptop ini memiliki harga yang bombastis. Untuk variasi spesifikasi standar dari laptop ini, kita harus mengeluarkan $1,249 (sumber: https://www.cnet.com/reviews/lenovo-thinkpad-x230-review/). Kalau kita konversi ke Rupiah, nilai tersebut setara dengan Rp11.865.500 untuk kurs Dollar pertengahan tahun 2012 (9.500) dan Rp 17.817.921,75 untuk kurs Dollar saat ini (14.265,75); dan nilai ini adalah harga resmi, bukan harga yang masuk ke Indonesia.

Untuk ukuran laptop kecil tanpa discrete graphic card (yang biasanya membuat laptop menjadi sangat mahal), itu adalah harga yang tidak bisa dibilang murah. Akan tetapi, kalau kita lihat dari kualitas laptop ini, terutama durability-nya (usia 9 tahun tapi masih berfungsi dengan normal), mungkin itu memang harga yang pantas.

Namun, yang jauh lebih penting adalah harga laptop tersebut saat ini, yang mana sudah turun jauh sekali. Aku tidak terlalu mengerti mengapa ini bisa terjadi, tetapi kalau kita cari di toko-toko online, kita akan dapati harga yang mereka berikan ada di kisaran 2,2 sampai 4 jutaan, tergantung spesifikasi yang dipesan (biasanya, variasi yang ditawarkan ada pada processor, RAM, dan storage).

Untuk unit yang ku-review ini, harga yang kudapatkan adalah 3,4 juta (ini harga yang sudah mendapat diskon 14%). Akan tetapi, karena jarak pengiriman yang jauh, mereka memberikan ongkos kirim yang cukup mahal, sekitar 260 ribuan (mahal banget sih sebenernya). Selain itu, aku juga memilih untuk memesan packing kayu untuk menambah keamanan sehingga harga akhir yang harus dibayarkan adalah 3,8 jutaan.

Sebenarnya, ini adalah harga yang sedikit lebih mahal dari harga yang ditawarkan toko-toko online lain. Mungkin, mereka memberikan harga yang lebih mahal karena produk yang mereka tawarkan masih memiliki kualitas yang sangat bagus dan tidak begitu terlihat bekas. Yang jelas, aku tidak menyesal sama sekali karena barang yang kudapatkan memang sangat memuaskan.

Spesifikasi

Lenovo ThinkPad X230 memiliki banyak sekali variasi spesifikasi. Seperti yang telah kusebutkan, kita akan mendapatkan harga yang berbeda untuk spesifikasi yang berbeda. Laptop yang ku-review memiliki spesifikasi Intel Core i5 3320M, dengan RAM 8gb, dan SSD 120gb. Untuk pertimbangan mengapa aku memilih spesifikasi tersebut, aku telah menjelaskannya di postingan sebelumnya. Kita akan bahas lebih lanjut terkait processor, RAM, dan storage di bagian pembahasan performa. Namun, sebelum sampai ke sana, kita akan bahas terlebuh dahulu design dari laptop ini.

Kondisi Laptop Saat Ini

Jika kita perhatikan dari sisi fakta bahwa ini adalah barang second, pertama-tama aku akan mengatakan bahwa laptop ini hampir tidak terlihat second sama sekali. Barang second, setahuku, seharusnya akan memiliki beberapa atau bahkan banyak bekas pemakaian, seperti bekas stiker, goresan-goresan tipis, bahkan karat dan juga retak. Di unit ini, memang, kita akan menemukan bekas-bekas tersebut juga. Akan tetapi, jika hanya sekilas, bekas-bekas pemakaian itu hampir tidak terlihat sama sekali, terutama jika dilihat saat pemakaian normal. Bisa dibilang, kebanyakan bekas pemakaian yang ada hanya terlihat jika kita berusaha cukup keras untuk melihatnya. 

Kalau mau didaftar, ada 5 tanda yang menunjukkan bahwa ini adalah laptop bekas:

  1. Lecet dan patahan di sudut atas layar bagian luar
  2. Goresan-goresan putih di bagian bawah
  3. Penyok tipis di bagian bawah
  4. Bintik putih di frame layar bagian bawah
  5. Lecet pada logo lenovo di bagian luar

Dari kelima poin tersebut, sebenarnya, bekas pemakaian yang paling jelas hanya poin nomor 1, 2, dan 3 (itu pun mungkin cukup sulit untuk dilihat jika hanya sekilas). Untuk melihat bekas-bekas pemakaian yang lain, seperti yang telah kusebutkan, kita harus berusaha cukup keras (maksudnya, susah kelihatan). Lagipula, tidak satu pun dari bekas pemakaian tersebut yang mengganggu kita saat mengoperasikan laptop (aku seriuss) sehingga sebenarnya, hal-hal seperti itu tidak perlu terlalu diperhatikan.



Yang lebih penting untuk diperhtikan daripada bekas-bekas pemakaian itu adalah kenyataan bahwa laptop ini memiliki build quality yang sangat bagus. Ini penting karena inilah yang akan lebih berpengaruh saat kita menggunakan laptop.

Bahan Pembuatan

Bahan dari laptop ini adalah magnesium alloy, atau campuran magnesium. Ini adalah bahan yang lebih kokoh, lebih kuat dari plastik. Ini membuat tubuh laptop ini kuat, kokoh, dan tidak begitu panas ketika digunakan. Selain kuat, tekstur dari magnesium alloy ini nyaman untuk disentuh. Kalau dari yang kurasakan, ini seperti tekstur kertas karton yang halus (yang halus loh ya, bukan karton kasar), tetapi di saat yang sama juga terasa keras dan padat. Yang jelas, ini adalah salah satu bagian paling menyenangkan bagiku: nyaman untuk dielus-elus. Satisfying.

Sayangnya, tidak semua bagian laptop ini dilapisi magnesium alloy. Seharusnya, ketika laptop ditutup, seluruh bagian luar laptop memiliki tekstur yang sama. Akan tetapi, di unit yang kudapatkan, ada 2 bagian yang memiliki tekstur berbeda: casing bagian atas dan baterai.

Bagian Atas dan Bawah Laptop

Di bagian atas laptop, terdapat semacam stiker yang menutupi seluruh casing bagian atas kecuali logo Lenovo dan Thinkpad. Tampaknya, ini bukan stiker yang dipasang oleh seseorang atau pihak ketiga, tetapi memang bawaan dari laptop ini sendiri karena ada beberapa foto dan video review dari laptop ini yang menampakkan stiker yang sama persis. Stiker ini memiliki tekstur yang sangat kasar, tetapi terlihat unik karena memantulkan bintik-bintik cahaya seperti glitter. Blink-blink. Ketika siang, percikan cahayanya tidak akan terlalu terlihat; hanya terlihat seperti casing hitam dengan tekstur kasar. Bintik-bintik pantulan cahaya akan terlihat jelas ketika kita berada di tempat dengan cahaya redup dengan lampu, misalnya di dalam rumah saat malam. Aku sebenarnya tidak begitu tertarik dengan stiker ini. Mungkin, aku akan mempertimbangkan untuk melepasnya jika ada tanda-tanda terkelupas. Mungkin.

Bagian kedua yang memiliki tekstur berbeda adalah baterai. Entah kenapa, bagian baterai laptop ini berbahan seperti plastik. Ketika aku mengelus-elus bagian bawah laptop ini (satu-satunya yang bertekstur halus seperti pipi bayi wkwkwkk), feel yang kurasakan langsung berhenti dan berubah ketika menyentuh bagian baterai. Aku tidak tahu pasti, tetapi mungkin ini memang bukan baterai bawaan dari laptop ini.

Frame Layar

Bagian lain yang tetrasa seperti plastik adalah frame layar dan bagian dalam laptop lainnya (bagian dalam, maksudnya bagian yang baru kelihatan ketika laptop dibuka, ketika laptop dipakai). Sebenarnya, aku tidak tahu pasti bahan apa yang digunakan untuk bagian dalam ini, tetapi kalau boleh menebak, tebakanku adalah plastik. Meskipun tidak senyaman bagian bawah laptop untuk dielus-elus, bagian ini sama sekali tidak mengganggu dan tetap nyaman untuk disentuh.

Kekokohan Tubuh dan Engsel

Jika kita menekan-nekan bagian tubuh utama laptop ini (pokoknya, selain bagian layar), kita akan merasakan bahwa laptop ini memiliki tubuh yang sangat kokoh dan tidak terasa kopong; seolah-olah bagian dalam laptop ini penuh tak berongga (oke itu berlebihan sih wkkwkwk). Keuntungannya apa, aku kurang tahu, tetapi jelas lebih nyaman daripada yang jika ditekan-tekan terasa kopong; terasa lebih mudah penyok dan rusak. Ada sedikit pengecualian di bagian atas dan kiri bawah keyboard. Mungkin karena usianya yang sudah tua, kedua bagian ini terasa kurang kokoh dan sedikit kopong ketika ditekan.

Untuk hinge alias engsel dari layar laptop ini, kita juga masih bisa merasakan kekokohannya; tidak mudah (bahkan, tidak bisa) digoyang-goyang. Kalau kita pegang ujung kiri atas dan kanan atas layar lalu kita goyangkang (seperti ingin mematahkan layarnya, tapi pelan-pelan aja ya, nanti kalau keras-keras takutnya patah beneran…), kita akan merasakan kokohnya layar laptop ini. Berbeda dengan laptop lain yang pernah kulihat review-nya di YouTube, beberapa sangat mudah digoyang dan tidak kokoh sama sekali (contohnya: https://youtu.be/xAYSaAWOhiw?t=266 di menit ke 4:25). Kondisi hinge yang kokoh ini membuat proses buka tutup laptop menjadi nyaman, meskipun belum bisa dibuka hanya dengan satu tangan seperti laptop-laptop keluaran terbaru.

Terbuka 180 Derajat

Selain kokoh, engsel dari laptop ini bisa terbuka sampai 180 derajat, sejajar alas. Dengan fitur layar 180 derajat ini, kita bisa lebih tenang karena engsel tidak akan patah ketika kita membukanya terlalu banyak atau tidak sengaja mendorong layar ketika sedang digunakan.

Berat Laptop

Selain tubuhnya yang kokoh, laptop ini juga ringan sehingga nyaman untuk dibawa-bawa dan termasuk ke dalam kategori laptop ultraportable (sumber: https://www.cnet.com/reviews/lenovo-thinkpad-230-review/). Beratnya hanya 1,34kg berdasarkan website resmi Lenovo (sumber: https://www.lenovo.com/gb/en/laptops/thinkpad/x-series/x230/), tetapi aku belum bisa memastikan berat unit yang kudapat; bisa jadi seberat itu, bisa jadi juga lebih berat karena ada sumber yang mengatakan bahwa beratnya 1,5kg (lihat: https://www.cnet.com/reviews/lenovo-thinkpad-x230-review/), tetapi yang jelas tidak akan jauh berbeda dan aku secara pribadi merasa laptop ini sangat ringan.

Dimensi/Ukuran Laptop

Salah satu yang membuatnya ringan adalah, tentu saja, ukurannya yang juga kecil. Panjang dan lebar dari laptop ini berturut turut adalah 30cm dan 20cm (ukuran penggaris xixixi) dan tergolong sebagai laptop 12,5-inch. Meskipun kecil, laptop ini menurutku cukup tebal dengan ketebalan sekitar 2,5 cm ketika ditutup, berbeda dengan laptop-laptop keluaran terbaru yang biasanya sedikit lebih tipis. Meskipun begitu, aku tidak merasa ada masalah dengan ketebalan tersebut (yang lebih penting, laptopnya kan ringan).

Untuk frame layar di kiri dan kanan, tidak begitu tipis dan tidak begitu tebal, sekitar 1,4cm (masih dengan penggaris dong). Sementara itu, bagian frame atas layar sedikit lebih tebal, yaitu sekitar 2cm (tau kan diukur pakai apaa) dan terdapat webcam 720p serta lampu indikator (kalau webcam sedang digunakan, lampu akan menyala, kalau tidak, lampunya mati) di sana.

Webcam

Webcam pada laptop ini memiliki kualitas yang biasa-biasa saja, tidak jernih, juga tidak buram. Yang  jelas, fitur background di zoom bisa dijalankan dengan baik. Lagi pula, webcam 720p seperti ini banyak dijumpai bahkan di laptop-laptop terbaru sehingga ini bukanlah sebuah masalah (sukur-sukur juga webcamnya nyala, bisa dipake zoom, jadi dosen gak ngamuk gara-gara offcam xixixiiixi).

ThinkLight (pengganti backlit keyboard)

Di atas webcam, terdapat celah kecil untuk lampu LED 5-volt yang disebut ThinkLight (sumber: https://www.thinkwiki.org/wiki/ThinkLight ) yang dapat dinyalakan dengan menekan tombol fn+space. Lampu ini berfungsi untuk menerangi keyboard ketika kita menggunakannya di tempat gelap. Ini mirip seperti fungsi dari backlit keyboard, hanya saja, wujudya lebih mirip seperti lampu untuk meja belajar. Terlihat agak kuno, sebenarnya, tetapi bagiku, lampu ini lumayan berguna dan aku benar-benar menggunakannya ketika mengetik di kamar saat malam hari, saat lampu kamar dimatikan.

Awalnya, kukira lampu tersebut hanya aksesoris yang tidak begitu fungsional, tetapi ternyata lumayan efektif untuk membantuku mengetik di tempat gelap. Contohnya, aku pernah menggunakan laptop ini di kamar saat malam, saat lampu sudah dimatikan, dan ingin menekan tombol F5 tetapi tidak terlihat karena gelap. Setelah menekan fn dan spasi, ThinkLight menyala dan tombol F5 terlihat dengan jelas sehingga aku tidak akan salah menekan tombol.

Jika kalian penasaran, sepertiku pada awalnya, terkait bagaimana lampu di frame atas dapat menyorot keyboard dan bukannya wajah kita, aku akan beri tahu. Frame bagian atas layar laptop ini tidak lurus 180 derajat ke atas, tetapi sedikit melengkung ke depan. Di bagian lengkungan itulah ThinkLight terpasang. Dengan begitu, ThinkLight memiliki ruang lebih lega untuk mengarahkan cahayanya ke keyboard. Itu adalah apa yang bisa terpikirkan olehku. Untuk detail teknis bagaimana ThinkLight ini terpasang, aku juga sebenarnya kurang tahu.

Layar Laptop

Di dalam frame, ada layar laptop dengan resolusi HD (1366x768 pixel); 1 tingkat di bawah FHD. Itu adalah resolusi yang cukup normal untuk laptop lama, terutama laptop 12-inch. Yang membuatku terkejut adalah viewing angle yang cukup bagus dari layar laptop ini. Jika dilihat dari samping kiri atau kanan, warna yang ditampilkan layar tidak banyak berubah. Warna dari layar baru akan berubah drastis ketika dilihat dari atas (tetapi, hey, siapa yang melihat laptop dari atas? Wkwkwk. Kalau dari kiri/kanan kan bisa aja kejadiannya pas nonton YouTube bareng). Ini adalah ciri-ciri dari layar IPS.


Jujur, aku benar-benar-benar-benar terkejut karena toko online yang menjual laptop ini tidak menyebutkan spesifikasi layar yang digunakan. Mereka hanya menyebutkan 12-inch HD. Stop sampai di situ. Berdasarkan video yang pernah kutonton, kalau penjual tidak menyebutkan tipe layar, biasanya layar tersebut adalah layar TN yang memiliki kualitas warna dan viewing angle yang tidak sebagus layar IPS (tapi, kalau tidak salah, cocok untuk gaming) serta harga yang relatif lebih murah dari layar IPS. Akan tetapi, dari apa yang kuamati, kemungkinan besar ini adalah layar IPS dan jika benar, ini adalah hal yang sangat menyenangkan.

Secara otomatis, jika benar ini layar IPS, tingkat kecerahan maksimumnya akan berada di 300 nits sesuai spesifikasi yang disebutkan di website resminya, (https://www.lenovo.com/gb/en/laptops/thinkpad/x-series/x230/ ) meskipun pada kenyataannya, tingkat kecerahannya mungkin tidak akan sebesar itu.

Terlepas dari itu semua, menurutku, layar laptop ini sangat terang dan nyaman untuk dilihat. Selama pemakaian beberapa hari ini, aku selalu menggunakan tingkat kecerahan hanya antara 2 atau 3 level dari tingkat kecerahan paling bawah dan menurutku, itu sudah cukup untuk pemakaian di dalam rumah. Aku sempat iseng-iseng membawanya ke luar rumah saat matahari terik untuk melihat apakah yang ditampilkan layar laptop ini masih bisa terlihat atau tidak dalam kondisi seperti itu. Hasilnya, dengan tingkat kecerahan maksimal, apa yang ditampilkan layar laptop ini masih bisa terlihat meskipun jelas berbeda kualitasnya dari kualitas ketika digunakan di dalam rumah karena banyaknya sinar matahari di luar. Namun, ini adalah hal yang cukup bagus karena aku pernah mencoba smartphone yang dalam kondisi seperti itu, apa yang ditampilkan layar smarthphone tersebut hampir tidak bisa terlihat.

Indikator Baterai

Di belakang layar, kita akan menemukan 2 buah lampu indikator. Indikator pertama memiliki bentuk baterai. Tentu saja, ini adalah indikator yang memberitahu kita informasi terkait 3 status baterai: kuning untuk baterai di atas 20%, oranye untuk baterai di bawah 20%, dan berkedip-kedip untuk baterai ketika sedang di-charge (bisa berkedip-kedip saat kuning maupun oranye). Indikator kedua berbentuk seperti bulan sabit. Ini akan menyala ketika laptop dalam kondisi sleep.

Charging Port

Untuk charging, laptop ini memilki lubang berbentuk bulat dan kita dapat menemukannya juga di bagian belakang laptop, bukan di samping kanan atau kiri. Untuk kabel charger, sepertinya, yang kudapatkan bukan kabel bawaan dari laptop ini sehingga ketika kita tancapkan ke laptop, charger tersebut tidak masuk seluruhnya; terlalu panjang. Meskipun begitu, tidak ada masalah lain seperti charger yang susah masuk, susah terhubung, dan lain sebagainya.

Port Lainnya

Selain lubang untuk charger, ada satu lubang pembuangan udara di sebelahnya dan tidak ada lubang lain bagian belakang laptop. Untuk bagian samping kiri, kita dapat menemukan 2 buah port USB 3.0, card reader, dan tombol fisik untuk menghidupkan dan mematikan adapter wifi (kalau dimatikan, laptop tidak bisa menangkap sinyal wifi. Aku pribadi pribadi belum coba soalnya takut kenapa-kenapa xixixii). Untuk bagian samping kanan, ada 1 port USB 2.0 dan audio combo jack untuk menggunakan headset/earphone. Terakhir, di bagian depan, sebenarnya tidak ada port sama sekali, tetapi ada speaker yang terletak di bagian depan bawah, menghadap ke alas.

Speaker

Untuk kualitas speakernya, aku tidak terlalu kagum karena suara yang dihasilkan sangat kecil. Bahkan, biasanya, aku mendekatkan telingaku ke bagian speaker untuk mendengar audio dengan lebih jelas (atau, laptopnya kuangkat dan kutempelkan bagian speaker ke kuping wkwkkw). Untuk kualitas audio yang bagus, sepertinya kita harus menggunakan headset/earphone.

Keyboard

Sekarang kita masuk ke bagian yang menarik dari laptop ini, keyboard. Hal pertama yang patut untuk disyukuri adalah fakta bahwa seluruh tombol di unit yang ku-review ini masih berfungsi dengan normal dan tidak ada satu pun tombol yang mati. Selain itu, satu hal lagi yang sangat menyenangkan dari laptop ini adalah kenyamanan yang kurasakan saat mengetik.

ThinkPad X230 memiliki keyboard yang sangat nyaman untuk mengetik. Tombol-tombol yang ada sangat ‘empuk’ saat ditekan, dan ketika dilepas, tombol tersebut ‘memantul’ kembali dengan cepat. Bisa dibilang, empuk tapi kuat. Aku pernah mencoba keyboard yang juga empuk saat ditekan, tetapi terasa murahan karena ketika dilepas tidak ‘memantul’ kembali ke posisi semula; terasa lemah.

Awalnya, kupikir keyboard ini sudah terlalu tua sehingga terasa longgar, tetapi setelah mengetik beberapa lama, aku sadar bahwa sensasi mengetik dengan keyboard ini sangat nyaman dan tidak murahan. Semakin lama aku mengetik, aku semakin ketagihan.

Kalau kalian pernah bermain pop it, sepertinya, sensasi menekan-nekan tombol-tombol di keyboard ini mirip dengan sensasi bermain pop it; pop it harga 3 jutaan (wkwkwkwkk). Bedanya, pop it dapat ditekan dari atas dan bawah, sementara keyboard ini hanya dapat ditekan dari atas. Yang jelas, mengetik dengan keyboard ini membuatku gemas dan ketagihan.

Kelemahan Keyboard

Meskipun begitu, keyboard ini punya beberapa kelemahan. Kalau kuhitung, ada 4 kelemahan dari keyboard laptop ini.

Kelemahan pertama adalah aksen Jepang yang ada di beberapa tombol. Sebenarnya, aku tidak menganggap ini sebagai kelemahan dan sebaliknya, aku suka (soalnya lucu aja gitu). Hanya saja, menurutku, mungkin sebagian orang akan terganggu dengan aksen Jepang ini, terutama karena tidak memiliki fungsi bagi orang Indonesia. Maksudnya, kita tidak membutuhkan tulisan-tulisan Jepang itu ketika menggunakan laptop, bahkan, mungkin kita tidak tahu apa tulisannya.

Kelemahan kedua datang dari aksen-aksen Jepang tersebut. Karena mungkin sebagian orang tidak menyukainya, penjual laptop ini memasang stiker keyboard huruf latin di hampir seluruh tombol yang ada. Untuk warna stiker, tidak ada masalah karena menyatu dengan baik dengan tombol aslinya. Akan tetapi, ada masalah lain yang terkait dengan stiker-stiker ini.

Masalah pertama adalah pemasangan stiker-stiker tersebut yang, beberapa, kurang rapi. Ada stiker yang sedikit miring dan ada yang tidak menutup tulisan asli dengan sempurna.

Masalah kedua adalah bekas putih di pinggiran stiker-stiker yang terpasang. Awalnya, bekas-bekas putih tersebut tidak ada. Bekas-bekas putih tersebut muncul karena keyboard ini sudah lumayan banyak kugunakan sehingga bagian pinggir stiker-stiker yang ada sedikit mengelupas.

Masalah ketiga adalah, meskipun ada yang terpasang rapi dan belum terkelupas, jika kita perhatikan baik-baik setiap tombol yang dipasangi stiker, terdapat setikit tonjolan yang berasal dari tulisan asli keyboard tersebut yang dari sananya memang sedikit menonjol; sedikit dan hampir-hampir tidak terlihat;

Karena aku penasaran dengan apa yang ada di bawah stiker, aku mencoba untuk melepas satu stiker yang terpasang, yaitu stiker huruf ‘M’ (setelah kulepas, kutempel di rak buku). Ternyata, tulisan asli di bawah stiker tidak terlihat terlalu buruk (malah, sekali lagi, aku suka). Hanya saja, warna dari tulisan asli keyboard ini sedikit lebih kuning, sedikit, daripada tulisan yang ada di stiker. Terlepas dari apakah warna itu disebabkan oleh usianya atau memang warna itu adalah warna aslinya, mungkin, aku akan mempertimbangkan untuk melepas semua stiker yang terpasang. Mungkin.

Kelemahan ketiga dari keyboard laptop ini adalah, adanya beberapa tombol ‘kosong’ yang terpasang di keyboard. Tombol-tombol ‘kosong’ ini sepertinya memang digunakan di Jepang, tetapi di Indonesia, tombol-tombol ini tidak ada gunanya. Memang, tombol-tombol tersebut masih terbaca oleh sistem laptop, tetapi, ketika kita tekan, tidak akan terjadi apa-apa.

Ini sebenarnya bisa menjadi kekurangan dan bisa juga menjadi keuntungan. Ini menjadi kekurangan jika kita meratapi tombol-tombol ini karena mereka ‘memotong’ tombol yang lain. Di sisi lain ini bisa menjadi keuntungan karena kita, dengan adanya tombol-tombol ini, memiliki tombol yang bisa di-remap menjadi tombol lain yang lebih berguna, tanpa menghilangkan fungsinya (karena memang tidak ada fungsinya dari awal. Kalau kita me-remap tombol delete, misalnya, kita akan kehilangan fungsi tombol delete). Sebagai contoh, aku me-remap tombol di dekat spasi menjadi apps key menggunakan aplikasi AutoHotkey.

Kelemahan keempat adalah, format yang sedikit berbeda dari kebanyakan laptop. Ada 5 hal yang menyebalkan dari format keyboard ini:

  • Tombol fn dan CTRL yang tertukar, entah kenapa
  • Spasi yang super pendek karena terpotong oleh tombol ‘kosong’
  • Tombol ALT yang tidak persis di sebelah spasi karena ada tombol ‘kosong’
  • SHIFT kanan yang pendek karena di sebelahnya adalah tombol ‘kosong’
  • Backslash yang turun ke samping tanda petik, entah kenapa

Akibat yang ditimbulkan oleh kelima masalah tersebut sama: salah pencet. Aku tidak akan menceritakan berapa kali aku salah pencet ketika mengetik karena format ini, tetapi yang jelas, ini adalah kelemahan paling berpengaruh dan mencolok dari keyboard ini. Meskipun begitu, seiring dengan berjalannya waktu, seharusnya aku akan semakin terbiasa dengan format ini. Seharusnya.

Tombol di Luar Keyboard

Untungnya, tombol power dari laptop ini terpisah dari keyboard sehingga kita tidak akan tertukar antara tombol delete dan tombol power seperti yang biasa terjadi pada beberapa jenis laptop lain. Uniknya dari laptop ini, tidak hanya tombol power yang terpisah dari keyboard, melainkan juga tombol volume up, volume down, dan mute. Ada juga tombol untuk mematikan mic, tetapi di unit ini sepertinya tombol itu tidak berfungsi. Ada satu tombol terakhir di samping tombol untuk mematikan mic, tetapi aku tidak tahu apa fungsinya dan menurutku ini bukan masalah.

Sedikit catatan kecil, untuk unit yang ku-review, tombol-tombol yang terpisah dari keyboard ini seluruhnya longgar. Longgar di sini, bukan longgar yang membuat tombol-tombol ini terasa hampir lepas. Hanya saja, jika kita meletakkan jari kita tombol-tombol ini (tidak ditekan) lalu menggoyang-goyangkannya, tombol-tombol ini akan sedikit bergerak. Ini mungkin terjadi karena usianya yang sudah tua. Akan tetapi, ini adalah hal yang wajar untuk laptop yang sudah tua dan bukan sesuatu yang perlu untuk dipertimbangkan; hanya sekadar informasi tambahan.

Trackpoint dan Trackpad

Hal terakhir yang perlu kita bahas sebelum masuk ke pembahasan inti adalah trackpoint dan trackpad.

Trackpoint adalah bulatan merah di antara tombol huruf ‘G’, ‘H’, dan ‘B’. Bulatan ini berfungsi sebagai mouse bagi laptop yang cara pakainya mirip seperti tombol analog pada joystick yang biasa dipakai untuk memainkan PS. Untuk menggunakannya, kita hanya perlu untuk meletakkan jari kita di trackpoint lalu mendorongnya ke arah yang kita inginkan untuk menggerakkan cursor, misalnya ke kanan atas atau kiri bawah. Kecepatan cursor akan berubah sesuai dengan tekanan yang kita berikan pada trackpoint. Untuk unit yang ku-review ini, trackpoint yang terpasang masih kuat dan nyaman untuk digunakan. Akan tetapi, kita sebaiknya berhati-hati karena bisa saja trackpoint yang terpasanh sudah usang dan jika ditekan terlalu keras, bisa jadi ia terlepas. Ini sempat terjadi pada review Lenovo ThinkPad T430 yang dibuat oleh GadgetIn beberapa waktu lalu (lihat: https://youtu.be/ryeoRO7RZag?t=840). Jadi, sebaiknya kita lebih berhati-hati dalam menggunakan trackpoint ini.

Selain trackpoint yang berfungsi dengan baik, bagian berbentuk kotak di bawah tombol spasi alias trackpad pada laptop ini, juga masih berfungsi dengan baik. Hanya saja, ukurannya yang kecil membuat kita agak kerepotan memindahkan cursor ke tempat yang jauh. Untuk memindahkan cursor dari ujung layar yang satu ke ujung yang lain, kita harus menggosok trackpad sekitar 3 sampai 4 kali. Untuk beberapa kasus, ini akan cukup melelahkan (yaelah gerak-gerakin jari aja melelahkan).

Untuk klik kanan dan kiri, kita bisa memilih antara menekan bagian bawah trackpad, atau menekan bagian atas yang memiliki aksen merah. Keduanya memiliki fungsi yang sama persis, tetapi bagian bawah trackpad masih membaca gerakan jari kita sehingga klik kanan atau kiri dengan bagian bawah trackpad terkadang akan sedikit menggeser posisi cursor. Aku, secara pribadi, lebih suka untuk menggunakan bagian atas trackpad.

Di bagian atas trackpad, terdapat pula tombol untuk klik tengah. Tombol ini, di laptop ini, berfungsi untuk melakukan scroll. Ketika ditekan, cursor akan berubah menjadi bentuk panah. Jika kita menggerakkan cursor ke atas laptop akan melakukan scroll ke atas dan begitu pula sebaliknya. Tombol ini sebenarnya tidak bermasalah, tetapi aku menemukan masalah pada trackpad yang menyebabkan terkadang klik tengah aktif dengan sendirinya dan ini sangat-sangat mengganggu. Karenanya, sekali lagi, aku menggunakan AutoHotkey untuk me-remap fungsi klik tengah sehingga tidak terjadi apa-apa ketika ditekan, atau lebih sederhanyanya, kumatikan.

Bahas PERFORMA

Sekarang, saatnya kita masuk ke bagian inti dari review ini, yaitu pembahasan performa dari Lenovo ThinkPad X230, dan kuucapkan selamat datang kepada kalian yang men-skip bagian-bagian sebelumnya dan langsung masuk ke pembahasan performa (aku paham, kok. Tulisanku memang sedikit (sangat woy!) kepanjangan). Kita akan mulai pembahasan dari yang paling mudah, storage.

SSD

Unit yang kudapatkan menggunakan storage SSD SATA dengan merek ViewReal yang memiliki kapasitas 120gb (tetapi yang terbaca hanya 118gb) dan sudah terpakai sekitar 30gb untuk OS Windows. Dengan begitu, kapasitas yang dapat kugunakan adalah sekitar 80gb. Ketika dicek menggunakan Hard Disk Sentinel, hasil yang didapatkan untuk performance dan health adalah 100% yang berarti kualitas SSD yang digunakan masih bagus. Setelah kujalankan CrystalDiskMark sebanyak 3 kali, SSD ini menunjukkan kecepatan rata-rata read 550MBps dan write 411MBps. Ini adalah kecepatan yang cukup normal untuk ukuran SSD SATA. Meskipun di kalangan SSD, kecepatan tersebut merupakan kecepatan SSD dengan kasta terendah, kecepatan tersebut masih jauh lebih baik daripada kecepatan read dan write HDD yang maksimumnya berada di angka 100an MBps; secara kasar, ini 5 kali lebih cepat.

Kecepatan read dan write tersebut akan sangat terlihat ketika menyalakan laptop dan mematikannya. Setelah dihitung, untuk sampai ke desktop, laptop ini hanya membutuhkan waktu sekitar 23 detik dan setelahnya, kita sudah dapat membuka aplikasi yang kita inginkan. Akan tetapi, untuk membuka seluruh program yang otomatis berjalan saat laptop baru dinyalakan, waktu yang dibutuhkan adalah sekitar 1 menit. Kita dapat melihat pada Task Manager bahwa ketika baru dinyalakan, CPU masih digunakan sebanyak lebih dari 50% (tetapi, asalkan sudah masuk Windows, kita sudah bisa membuka aplikasi yang kita inginkan). Setelah 1 menit, barulah penggunaan CPU turun ke bawah 5%. Ini adalah kondisi yang cukup normal dan terjadi di banyak laptop. Sementara itu, untuk mematikan mesin, laptop ini hanya membutuhkan waktu sekitar 13 detik.

Kecepatan read dan write juga akan terasa ketika kita membuka aplikasi seperti WPS Office (sejenis Microsoft Office, tapi gratis), Google Chrome (browser), OBS Studio (perekam layar) dan Shotcut (video editor). Di laptop ini, aplikasi-aplikasi tersebut dapat dibuka dengan sangat cepat. Secara spesifik, WPS Office dan Google Chrome terbuka dan sudah mulai bisa digunakan kurang dari 3 detik, sementara OBS Studio dan Shotcut terbuka dan sudah mulai bisa digunakan kurang dari 5 detik. Sebagai catatan, akan ada saat-saat di mana laptop ini menunjukkan lag untuk alasan yang tidak diketahui, tetapi seperti yang sudah kusebutkan di awal, ini adalah keadaan yang wajar dan juga terjadi di laptop-laptop yang masih baru.

Itu semua adalah performa yang sangat baik dari SSD yang terpasang dan akan sangat berguna ketika kita harus menyalakan dan mematikan laptop dengan cepat. Sebagai contoh, pernah dalam keadaan terburu-buru (gak buru-buru banget, tapi bukan kondisi yang pas untuk santai-santai), aku terlanjur mematikan laptop. Padahal, ada satu file yang harus kukirim terlebih dahulu. Aku menyalakan laptop kembali, membuka Google Chrome, mengakses WhatsApp Web, mengirim file melalui WA, kemudian mematikan laptop dan memasukkannya lagi ke dalam tas. Itu terjadi dengan cukup cepat dan tidak banyak waktu yang terbuang untuk menunggu.

RAM

Selanjutnya, kita akan membahas RAM. Kapasitas RAM yang digunakan laptop ini adalah 8gb dengan konfigurasi dual channel (2 keping RAM 4gb). Konon katanya, performa grafis laptop (seperti saat meng-export video dari video editor atau saat menjalankan game) akan meningkat dengan konfigurasi 2 channel seperti ini (sumber: https://youtu.be/QyQ3PrbId18?t=514). Tidak meningkat dengan begitu drastis sepertinya, tetapi tetap saja lebih baik daripada hanya 8gb single channel (1 keping RAM langsung 8gb).

Meskipun RAM yang terpasang adalah DDR3 yang kecepatan maksimumnya 1600MHz (lebih rendah daripada DDR4), tetapi hal tersebut tidak terlalu terasa karena fungsi utama RAM untuk menjalankan banyak program sekaligus (atau menjalankan 1 program yang kompleks sehingga membutuhkan banyak RAM) masih dapat dilakukan. Aku dapat membuka banyak aplikasi atau banyak tab pada browser secara bersamaan dan sejauh ini RAM yang terpakai belum pernah melebihi 5gb.

CPU: Intel Core i5 Gen 3

Selanjutnya, kita masuk ke performa CPU, yaitu Intel Core i5 3320M (ini adalah i5 generasi ke-3) yang memiliki 2 core dan dapat menjalankan 4 thread (atau biasanya disebut sebagai CPU 2 core 4 thread). Untuk menguji performa CPU, aku menggunakan Cinebench R15 yang akan menguji kemampuan CPU sampai batas maksimalnya. Pengujian kulakukan pada mode better performance dan best performance (diatur pada menu ketika logo baterai diklik) dengan kondisi charger terpasang. Setelah mengulangi pengujian selama 5 kali pada masing-masing mode, Intel Core i5 3320M yang menjalankan laptop ini mendapat skor rata-rata sebesar 256 cb pada better performance dan 254 cb pada best performance. Ini tidak berarti bahwa better performance malah lebih baik dari best performance, tetapi ini berarti bahwa kedua mode tersebut tidak memiliki perbedaan performa dalam pengujian Cinebench R15 dan adanya selisih beberapa cb dalam tiap pengujian adalah hal yang sangat wajar. Jika dibandingkan dengan laptop-laptop terbaru yang murah, skor ini termasuk skor yang cukup tinggi.

Beberapa processor yang mendapatkan skor lebih rendah dari Intel Core i5 3320M, di antaranya:

  • AMD A4
  • AMD A9
  • Intel Celeron N4100
  • Intel Celeron N4205

Beberapa Processor dengan skor lebih tinggi, di antaranya:

  • AMD Athlon Gold 3150U
  • AMD Athlon 300U
  • AMD Ryzen 3/5/7 semua generasi
  • Intel Core i3 generasi 8 ke atas
  • Intel Core i5/i7 generasi 4 ke atas

Beberapa processor yang setara:

  • AMD Athlon Silver 3050U
  • Intel Celeron N4120
  • Intel Pentium Gold
  • Intel Core i3 generasi 7

Suhu CPU (dan sedikit bahas kipas)

Selama pengujian Cinebench R15, suhu CPU berada di antara 77 sampai 85 derajat Celsius dan pada kondisi ini, kipas dalam laptop sudah mulai mengeluarkan udara dari sisi kiri dan belakang laptop. Akan tetapi, suhu tersebut bukan suhu maksimum yang pernah tercapai selama aku menggunakan laptop ini. Aku sempat membuka game Adopt Me di Roblox dan meninggalkannya sebentar untuk membeli sesuatu di luar. Saat aku pergi, suhu CPU berada di kisaran 60 sampai 75 derajat Celsius. Saat aku kembali (mungkin setengah jam lebih), game tersebut masih terbuka dan saat kucek suhu dari laptop ini, suhu maksimum yang dicapai adalah sekitar 101 derajat Celsius dengan suhu saat itu berada di kisaran 90 derajat Celsius. Saat itu, kipas dalam laptop mengeluarkan udara dengan cukup kencang (untuk ukuran kipas pendingin dalam laptop) dan panas. Aku kemudian langusng menutup game tersebut dan secara perlahan, suhu CPU kembali normal. Memainkan game di Roblox dalam waktu singkat sepertinya masih cukup aman untuk dilakukan, tetapi sangat tidak kusarankan untuk memainkannya terlalu lama (atau game apapun selain Roblox).

Untuk pemakaian sehari-hari, suhu CPU tentunya tidak akan setinggi ketika pengujian dijalankan dan kipas di dalam laptop juga tidak berbunyi (tetapi tetap ada hawa panas yang terbuang dari lubang ventilasi). Dalam kondisi normal, misalnya saat mengetik, browsing, atau menonton YouTube, suhu CPU berada di 45 sampai 55 derajat Celsius. Suhu ini sangat wajar bahkan untuk laptop terbaru dan tidak mengganggu kita dalam pemakaian sehari-hari.

Bahas Baterai

Sayangnya, baterai laptop ini bisa dibilang sangat boros. Mungkin, ini karena usianya yang sudah tua (dan memang bukan baterai bawaan(?)). Saat pertama kali dijual pada 2012, ada banyak review dari laptop ini yang memuji baterainya yang tahan lama; bisa sampai 5 jam lebih, bahkan 10 jam kalau dibiarkan menyala begitu saja (sumber: https://www.notebookcheck.net/Lenovo-ThinkPad-X230-2306-2AU-Laptop-Review.75317.0.html). Namun namun namun… saat ini, baterai laptop ini hanya sanggup bertahan selama sekitar 1 jam 12 menit dari 95% baterai hingga 20% untuk pemakaian normal seperti mengetik, browsing internet, install beberapa aplikasi, dan menonton video. Setelah berjalan 8 menit, baterai laptop tersisa hanya 10% dan tidak lama kemudian mati secara otomatis (sebelum 0%). Untuk mengisi baterai dari 10% hingga 90%, kita membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Ini adalah bagian paling disayangkan dari laptop ini. Aku, secara pribadi, hampir selalu memasang charger ketika menggunakan laptop ini sehingga tidak perlu memikirkan baterainya lagi.

WINDOWS ORIGINAL

Untungnya, laptop Lenovo ThinkPad selalu memiliki Windows yang original, sehingga kita tidak perlu menggunakan free OS seperti Ubuntu (sebenarnya tidak masalah, hanya saja bagi yang kurang familier, akan butuh waktu untuk terbiasa menggunakannya) dan juga tidak perlu membajak (ingat, membajak = mencuri jika pihak yang dibajak tidak mengizinkan). Namun, ada kalanya penjual laptop tidak mengetahui hal itu (atau mungkin lupa) sehingga mereka memilih untuk menginstall Windows kemudian menggunakan crack untuk mengaktifkannya. Jika ini yang terjadi, maka kita harus mengaktifkan Windows yang original sendiri. Ini bisa dilakukan (dan cukup mudah) karena product key dari Windows yang original sudah tertanam dalam mesin laptop ini. Kita hanya perlu menampilkannya, lalu mengaktifkan kembali Windows.

Rangkuman Kualitatif

Baiklah. Seluruh bagian sudah selesai ku-review, sekarang saatnya untuk menyimpulkan keseluruhan pembahasan, serta merangkum data-data yang telah disebutkan.

Overall, laptop Lenovo ThinkPad X230 yang ku-review memiliki harga yang cukup terjangkau dengan kondisi yang sangat baik, baik dari segi fisik maupun performa. Tidak banyak bekas pemakaian yang terlihat di laptop ini dan kalau pun ada, cukup sulit untuk dilihat. Tubuh laptop ini kuat, engselnya kokoh, dan dapat dibuka hingga 180 derajat sehingga kita tidak perlu khawatir engselnya akan patah jika terdorong. Layar yang digunakan laptop ini, sepertinya, adalah layar IPS dan sangat nyaman untuk dilihat. Seluruh port berfungsi dengan normal, trakpad dan trackpoint-nya juga berfungsi dengan normal, dan seluruh tombol pada keyboard laptop ini masih terbaca, berfungsi dengan baik, bahkan sangat-sangat nyaman untuk dipakai mengetik. Tentunya, ada beberapa kekurangan pada format keyboard ini, tetapi seharusnya hal tersebut bukanlah masalah yang terlalu besar, bahkan bisa menjadi keuntungan. Performa SSD pada laptop ini cukup bagus sehingga laptop dapat dinyalakan dan dimatikan dengan cepat. RAM yang terpasang juga berfungsi dengan baik sehingga banyak program yang dapat dibuka sekaligus tanpa ada gejala lag yang berarti. CPU yang digunakan lumayan bagus dan dapat bersaing dengan laptop-laptop murah keluaran terbaru. Ketika digunakan, laptop ini tidak terlalu panas dan juga tidak berisik, kecuali ketika pemakaian berat seperti menjalankan game. Satu hal yang sangat disayangkan dari laptop ini adalah baterainya yang sangat boros, tetapi ini dapat diatasi dengan selalu memasang charger ketika laptop sedang digunakan. Terakhir, laptop ini dilengkapi dengan Windows original yang jika belum aktif, dapat kita aktifkan sendiri.

Rangkuman Kuantitatif

Rangkuman data-data laptop ini adalah sebagai berkut.

  • Kelebihan Utama : Build quality, layar, keyboard, dan CPU
  • Kekurangan Terbesar : Baterai boros
  • Harga Saat Dirilis : $1,249
  • Harga Unit yang Di-review : 3.4 juta (termasuk diskon 14%)
  • Bahan Pembuatan : Magnesium alloy
  • Kategori Laptop : Ultraportable
  • Berat Laptop : 1,34kg - 1,5kg
  • Ukuran Layar : 12,5-inch, 30cm x 20cm
  • Ketebalan Frame : 1,4cm (kanan dan kiri)
  • Ketebalan Laptop : 2,5cm (ketika ditutup)
  • Tipe Storage : SSD
  • Merek Storage : ViewReal
  • Kapasitas Storage : 120gb (terbaca 118gb)
  • Kecepatan Read : 550MBps
  • Kecepatan Write : 411MBps
  • Kapasitas RAM : 8gb
  • Konfigurasi RAM : Dual channel
  • CPU : Intel Core i5 3320M (i5 generasi ke-3)
  • Jenis CPU : 2 core 4 thread
  • Skor Cinebench R15 : 255 cb
  • Durasi Baterai : 1 jam 12 menit

Outro (akhirnya!)

Review dari laptop Lenovo ThinkPad X230 ini aku cukupkan sampai di sini. Semoga dengan review ini, kalian mendapatkan informasi dan gambaran yang lebih baik terkait laptop yang akan kalian beli. Semoga kalian mendapatkan laptop yang terbaik.

Done!

Comments

Popular posts from this blog

Kepribadian (bagian 2)

Luka