Luka

Ini terjadi beberapa hari yang lalu, tepatnya 2 November 2021 pukul kira-kira setengah 3. 

Waktu itu aku lagi ngecek mesin cuci: apakah ada pakaian? apakah mesinnya bisa nyala? Ternyata mesinnya belum bisa berfungsi dengan benar. Wajar sih, memang dari kemaren mesin cuci di rumahku agak error. Terkadang pengeringnya nyala, terkadang nggak. Hari itu, lagi gak nyala.

Di lantai tempat aku berdiri, ada bekas sabun cuci yang kemarennya aku tumpahin. Meskipun udah aku bersihin, masih ada sisanya dan itu bikin lantainya jadi licin. Banget.

Tentu saja aku akan melakukan hal yang dewasa dan bijaksana terhadap kondisi itu. Aku memainkan kakiku dengan menggosok-gosokkannya di lantai yang licin. Beberapa detik kemudian, aku berputar-putar di tempat seperti pemain ski es.

Sayangnya, aku bukan pemain ski es. Keseimbanganku hilang dan aku terpeleset.

"AAAARGH!" teriakku cukup keras.

Adik-adikku yang mendengarnya spontan bertanya-tanya.

"Apatuhhh."

Tapi, mereka sebenarnya cuma bertanya-tanya dan tidak melakukan apa-apa. Aku tetap di tempatku, dan mereka tetap di tempat mereka.

Kakiku terhantup bagian keramik yang menonjol. Kondisinya seolah-olah keramik yang ini dapat semen yang agak kebanyakan waktu dibikin dulu. Jadinya, ada jarak ketinggian sekitar 1cm antara keramik yang ini dengan yang lain. Nah, kakiku ketendang bagian yang nonjol ini.

Nggak kayak orang yang tersiksa banget sih, tapi ya sakit. Jadi aku berhenti muter-muter dan kembali ke jalan yang benar. Jalan ke ruang tamu.

Tapi, sebenarnya ini kejadian yang konyol banget. Aku kesakitan cuma gara-gara muter-muter di lantai licin. Habis tu kepeleset. Meskipun sakit, di saat yang bersamaan aku juga ketawa-ketawa sendiri.

Aku jalan pelan-pelan soalnya masih lumayan kerasa habis ketendang tadi. Waktu aku sampai di pintu dapur, aku ngerasa kok kayaknya ada yang aneh. Jadi aku liat kakiku yang kehantup tadi. Ternyata merah.

Tunggu, merah apa ini?

Sesaat kemudian aku sadar kalau ibu jari kakiku berlumuran darah. Aku liat ke belakang, merah tua pekat berceceran sepanjang jalan yang kulewati (nggak nggak, nggak sepanjang itu. Paling darahnya bercerceran cuma di 4 sampai 5 langkah terakhir).

Darah yang berceceran agak gak wajar. Kebanyakan! Biasanya kalau aku luka, paling netes dikit. Nah ini, kira-kira satu tetesan itu gedenya kayak lingkarang terbesar yang bisa dibikin jari jempol sama jari tengah. Ada beberapa tetesan sebesar itu di sepanjang jalan yang kulewatin tadi.

"Loh, bedarah! Banyak woi! Woi adik-adik, gimana ini? Tolong!"

Meskipun aku teriak minta tolong, aku teriak sambil ketawa-ketawa. Yaaa, habisnya bagiku ini agak lucu. Lagi muter-muter asik main sabun, kepeleset, eh darah ngocor banyak banget... (ini dark humor apa gimana ya...). Adik-adikku yang liat darah berceceran, malah ngerasa jijik terus nutup pintu kamar.

"AAaaaaAa!! Singkirkan, singkirkan," teriak yang satu.
"Ihhhh! Jorok. AaaaaaAa..." teriak yang lain.

Yaudah, kayaknya di pertarungan ini cuma ada aku.

Aku coba ambil tisu terus elapin darah dari kakiku. Ternyata, darahnya keluar terus. Jadi tisu-tisu yang udah kotor itu kubiarin di lantai dulu, terus aku cari cara lain buat bersihin.

Aku masuk ke WC, nyalakan shower, terus arahin kakiku ke tempat jatuhnya air. Aku bisa liat kakiku semakin bersih. Tapi, kok darahnya keluar terus??

"Loh kok keluar terus? Weh, ini kolo habis gimana??"

"AaaaAaaa... Jorokk!"

Menurutku, dibiarin ngalir terus di bawah shower bukan ide bagus. Jadi, aku jalan keluar terus ambil tisu lagi. Aku pencet pelan tempat lukanya, terus kubiarin sebentar. Hasilnya, pendarahannya mereda.

Tau gak apa yang menarik? Penyebab kejadian ini simpel, secara kasat mata dampaknya besar (dilihat dari lantai yang kotor), tapi secara hakikat dampaknya kecil.

Sakitnya sebenarnya gak begitu parah, terus cuma beberapa menit semuanya beres, kembali seperti normal. Kecuali, habis itu aku harus pelan-pelan kalau make kaki. Kalau nggak, lukanya bakal kebuka lagi. Dan sekarang tanggal 7, bisa dibilang lukanya udah ketutup, kakiku udah normal lagi.

Ada satu kejadian lagi yang efeknya jauh lebih parah, coba tebak.

Jawabnnya adalah hal yang sangat dramatis dan tidak terduga: aku cacingan.

Gila men. Itu aku seharian menderita.

Aku gak bakal ceritain detailnya soalnya menjijikkan. Tapi intinya, aku kayaknya melakukan kesalahan (yang aku juga gak tau apa) sehingga ada rasa perih di sana.

Jadi, ada 2 hal yang bikin aku tersiksa: perih dan sensasi sesuatu yang menggeliat.

Dan perihnya itu, gak wajar banget. Kayak ada luka terbuka yang ditetesin obat. Perih. Semakin sore, perihnya semakin menjadi-jadi.

Yang paling parah, aku ga bisa ngapa-ngapain buat ngilangin rasa sakitnya. Duduk sakit. Berdiri sakit. Tiduran sakit. Kupukul... sakit... Bahkan, aku mau bawa tidur aja susah. Pas perihnya mereda, gantian, giliran mereka yang bergoyang-goyang. Aku gak bisa ngapa-ngapain.

Jadi yang bisa kulakukan cuma merintih dan berdoa: semoga ini cepat selesai dan semoga ini menghapuskan dosa-dosaku.

Soalnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bilang yang artinya:

"Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanaan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya." (HR. Bukhari no. 5641).

Sumber:  https://umma.id/post/5-dalil-tentang-sakit-bisa-jadi-penggugur-dosa-356945?lang=id

Nabiﷺ juga bersabda yang artinya:

Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya." (HR. Muslim)

Sumber: https://muslim.or.id/547-rahasia-sakit.html

Kalau dari penjelasan Ustadz Firanda dari kajian "Untukmu yang Lagi Sedih", 5 Agustus 2019, di menit ke 31:51 (https://youtu.be/cudVHrVmHVY diakses 7 nov 2021):

Tidak ada sesuatu yang menimpa muslim, bahkan hanya keletihan (nashab), atau rasa sakit (washab) apapun termasuk demam (makanya kata nabiﷺ "jangan mencela demam"), kesedihan (hazan) (yaitu kesedihan dari masa lalu), kegelisahan (hamm) (yaitu kekhawatiran terhadap masa depan), keburukan orang lain kepada kita (adzan) termasuk gibahan, olokan, dll, kegelisahan tanpa sebab (dhamm), bahkan terkena duri, kecuali itu semua akan menghapuskan dosa-dosa.

Terus juga sebagai tambahan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:

"Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi." (HR. Muslim)

Sumber: https://muslim.or.id/547-rahasia-sakit.html

Kembali ke cerita awal. Kalau diperhatikan, kesakitan yang kedua ini penyebabnya bukan hanya simpel, malah gak diketahui. Dampaknya secara zhahir gaada, soalnya emang gak keliatan. Tapi secara hakikat, ini bikin orang gak bisa tidur semalaman. Cuma cacingan.

Betapa mudahnya Allah bikin orang kesakitan. Gaada darah. Gaada memar. Gaada racun. Gaada kecelakaan. Gaada apa-apa. Tapi semaleman menggeliat minta ampun.

Harusnya dari sini aku sadar, kalau aku gaboleh kurang ajar sama Allah. Gaboleh ngeremehin perintah dan larangannya. Kalau Allah mau, aku bisa aja kena musibah dari hal-hal remeh yang umum terjadi.

Sebaliknya, hal yang mengerikan bisa jadi biasa-biasa aja bahkan lucu kalau Allah mau. Semua ada yang ngatur dan aku cuma bisa terima apa yang terjadi.

Sumber masalah ada banyak. Aku dalam keadaan oke-oke aja sekarang bukan karna gaada masalah atau aku bisa ngatasin masalah, tapi Allah kasih kemudahan dalam masalah yang ada, atau malah Allah tahan masalah itu supaya gak muncul sama sekali. Kalau Allah lepasin masalahnya, siapa yang bisa nolong?


Comments

Popular posts from this blog

Review Laptop Bekas: Lenovo ThinkPad X230 (Versi Jepang)| Bagaimana Performanya di Tahun 2022?

Kepribadian (bagian 2)