Kepribadian (bagian 2)

untuk pemahaman yang lebih baik, baca dulu Bagian 1

Review Singkat

Kita akan mempelajari kepribadian untuk 3 tujuan:

  • MENJELASKAN mengapa seseorang melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan
  • MEMPREDIKSI apakah seseorang akan melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan.
  • MEMANIPULASI seseorang (boleh jadi diri sendiri) agar ia melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan

Akan tetapi, jika menggunakan kebanyakan teori kepribadian yang ada, kita tidak dapat mencapai tujuan yang telah disebutkan. Ini karena teori-teori tersebut terlalu menyederhanakan kepribadian manusia sementara kita butuh informasi yang bersifat spesifik untuk mencapai tujuan tersebut.

Bahkan, teori Five-Factor Model of Personality yang banyak direkomendasikan saat ini juga masih memuat informasi yang terlalu sederhana. Meskipun banyak direkomendasikan, kita tidak akan berfokus kepada teori tersebut. Kita akan menggunakan teori yang mendasari teori tersebut untuk pembahasan ini, yaitu Cattel's 16 Personality Factor.

Cattel's 16PF Secara Singkat

Secara umum, Five-Factor Model of Personality dan Cattel's 16 PF memiliki konsep yang sama, yaitu beberapa faktor diukur dalam skala kontinu untuk menggambarkan kepribadian seseorang. Ini adalah konsep yang sangat bagus, karena kita tidak akan secara kaku dikelompokkan ke dalam tipe tertentu, melainkan hanya mendapat gambaran tentang bagaimana kita bersikap berdasarkan faktor yang dipakai. Perbedaan antara keduanya ada pada faktor yang digunakan. Faktor pada 16PF, seperti namanya, berjumlah 16, sementara pada Five-Factor Model of Personality, hanya ada 5.

Faktor yang digunakan dalam Cattel's 16PF adalah sebagai berikut.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, kita akan membuat perangkat dan metode penjelasan kepribadian seseorang. Tetapi sebelum itu, kita akan bahas beberapa hal terlebih dahulu.

Ada Faktor yang Dapat Diturunkan

Kebanyakan penjelasan terkait 16PF tidak memberikan informasi yang detail terkait faktor-faktor yang ada. Mereka hanya memberikan nama-nama sifat yang berasosiasi dengan faktor yang dibahas, bukan definisi dan interpretasi. Sifat-sifat yang diberikan pun tidak begitu jelas konteksnya, contohnya, dan batasannya. Padahal, nama-nama faktor yang ada hanyalah label untuk membedakan faktor yang satu dengan yang lain. Yang lebih penting adalah apa yang ada di balik label-label tersebut.

Selain itu, terkadang ada beberapa sifat yang terkandung dalam satu faktor. Artinya, satu faktor akan memiliki beberapa unsur. Ini akan menyebabkan ketidaktepatan dalam penilaian karena bisa jadi ada unsur yang terpenuhi dan ada unsur yang tidak terpenuhi pada diri seseorang. Jika dalam satu faktor, seseorang memenuhi beberapa unsur dan tidak memenuhi unsur yang lain, akan sulit menentukan apakah ia mendapat skor tinggi atau rendah.

Sebagai contoh, anggaplah faktor X memiliki 2 unsur, yaitu x1 dan x2. Jika x1 dan x2 terpenuhi, seseorang akan mendapat skor TINGGI pada faktor X dan jika keduanya tidak terpenuhi, ia akan mendapat skor RENDAH. Masalah akan muncul ketika seseorang hanya memenuhi salah satu dari kedua unsur, yaitu x1 saja atau x2 saja. Jika seseorang memperoleh skor SEDANG untuk kedua kasus (x1 saja atau x2 saja), maka akan ada 2 kepribadian yang mendapat skor sama.

Ini tentunya tidak akan bagus untuk memprediksi perilaku seseorang karena seharusnya kita menggunakan informasi yang spesifik sehingga dua orang yang memiliki skor sama akan menunjukkan perilaku yang sama dan skor yang berbeda akan menunjukkan perilaku yang berbeda. Bahkan, ini adalah permasalahan dari kebanyakan teori kepribadian yang ada, yaitu ada beberapa kepribadian yang terkumpul dalam 1 kategori.

Meskipun begitu, 16PF menyediakan faktor yang lebih banyak dan spesifik jika dibandingkan dengan teori lainnya. Yang perlu kita lakukan adalah membuatnya sedikit lebih spesifik dengan menurunkan setiap faktor yang dapat diturunkan sehingga menjadi bentuk yang tidak dapat terbagi lagi serta menyediakan definisi yang jelas untuk masing-masing faktor yang baru. Untuk faktor yang memang sudah tidak dapat diturunkan lagi (tidak terdiri dari beberapa unsur kepribadian), kita akan langsung menggunakannya tanpa modifikasi.

Mari Kita Turunkan (WARNING!! Ini akan menjadi pembahasan yang sangat panjang)

Kita akan mulai pembahasan dari kesimpulan, kemudian dilajutkan dengan pembahasan yang lebih rinci berdasarkan kesimpulan tersebut. Yang dimaksud dengan kesimpulan adalah ringkasan dari penurunan faktor-faktor asal menjadi faktor yang baru. Berikut adalah daftar faktor asal dan turunannya.

  • WARMTH diturunkan menjadi EMPATHY dan ALTRUISM
  • INTELLECT diturunkan menjadi LOGICAL REASONING dan CURIOSITY dan INSTINCT
  • ABSTRACTNESS diturunkan menjadi ABSTRACT THINKING dan IMAGINATION
  • OPENMINDEDNESS tidak diturunkan
  • EMOTIONAL STABILITY tidak diturunkan
  • AGGRESSIVENESS diturunkan menjadi COURAGEOUSNESS, CONFIDENCE OF CHOICE, EMOTIONAL STABILITY, dan EMOTIONAL POSITIVITY
  • SOCIAL ASSERTIVENESS diturunkan menjadi COURAGEOUSNESS dan CONFIDENCE OF CHOICE
  • ANXIETY diturunkan menjadi CONFIDENCE OF RESULT
  • LIVELINESS diturunkan menjadi SPONTANITY dan EMOTIONAL POSITIVITY
  • DUTIFULNESS diturunkan menjadi SPONTANITY, DESIRE OF REWARD, PERSISTENCE, dan PERFECTIONISISM
  • SENSITIVITY diturunkan menjadi LOGICAL REASONING, EMPATHY
  • PARANOIA tidak diturunkan
  • INTROVERSION diturunkan menjadi EXPRESSIVENESS, SOCIAL QUANTITY, dan PRIVATENESS
  • INDEPENDENCE diturunkan menjadi INDEPENDENCE dan PRIVATENESS
  • PERFECTIONISISM tidak diturunkan
  • TENSION diturunkan menjadi TENSION ON QUALITY dan TENSION ON QUANTITY

Dapat dilihat bahwa terdapat total 23 faktor yang baru. Beberapa adalah turunan dari faktor awal dan beberapa adalah faktor awal itu sendiri. Terkadang, satu faktor awal terdiri dari beberapa unsur yang membentuknya, sementara unsur yang membentuknya dapat mempengaruhi beberapa faktor yang lain. Dari sini, kita dapat melihat bahwa unsur-unsur yang baru adalah faktor yang lebih mendasar dan tidak saling tumpang tindih.

Berikut adalah ke-23 faktor yang baru yang diurutkan berdasarkan sifat yang berdekatan.

Perlu diperhatikan bahwa nama-nama faktor yang telah disebutkan hanyalah label untuk mempermudah penyebutan. Oleh karena itu, kita tidak akan membahas definisi dari nama yang dipakai secara bahasa. Nama apapun yang dipakai tidak terlalu penting dan boleh diganti jika memang menyulitkan untuk diingat. Yang jauh lebih penting adalah apa yang ada di balik label.

Sekarang, saatnya kita membedah faktor-faktor tersebut satu persatu. Kita akan membahas definisi dari masing-masing faktor yang ada, contohnya, implementasinya, dan mungkin beberapa penjelasan tambahan.

Empathy

Empathy adalah keadaan seseorang, di mana ia dapat merasakan apa yang orang lain rasakan tanpa proses berpikir. Kondisi ini tentunya hanya berlaku ketika ia melihat atau mendengar keadaan orang yang dimaksud. Jika seseorang tidak melihat atau mendengar keadaan orang lain, tentunya tidak akan ada empathy yang terjadi.

Ada sebuah penelitian yang menunjukkan bagaimana cara kerja empathy. Penelitian tersebut mengumpulkan beberapa orang untuk di-scan menggunakan MRI. Peneliti kemudian akan memperhatikan aktivitas otak mereka saat diberikan beberapa perlakuan.

Ketika di-scan, mereka diperlihatkan beberapa gambar atau video orang lain yang mengalami suatu kejadian. Hasil scan MRI menunjukkan adanya fenomena yang terjadi pada otak saat foto atau video ditampilkan. Ketika responden diperlihatkan keadaan seseorang yang kesakitan, seperti seseorang yang tangannya disakiti, otak mereka memperlihatkan reaksi seolah-olah tangan merekalah yang disakiti, meskipun hanya sejenak.

Yang menarik adalah, otak mereka tidak menunjukkan proses analisis atau berpikir atau usaha untuk melakukan sesuatu. Begitu mereka menyadari suatu kondisi, mereka ikut merasakannya secara spontan untuk sejenak tanpa mereka sadari, seolah-olah kejadian tersebut benar-benar terjadi pada diri mereka.

Hal yang sama juga terjadi ketika mereka diperlihatkan keadaan seseorang yang terlihat sedih, jijik, marah, dan sebagainya. Asalkan mereka menyadari kondisi atau emosi yang dialami oleh orang tersebut, mereka akan ikut merasakan apa yang orang tersebut rasakan.

Ini berlaku sesuai dengan perspektif mereka masing-masing. Meskipun orang yang mereka lihat sedang bersedih sebenarnya tidak bersedih (karena mereka mendapatkan informasi yang salah atau orang yang mereka lihat memang hanya berpura-pura), mereka tetap akan merasakan sesuatu sesuai dengan perspektif mereka masing-masing. Kondisi inilah yang kita sebut sebagai empathy.

Empathy sebenarnya dapat terjadi pada setiap orang, tetapi dalam kondisi normal (tanpa ada tuntutan apapun), tidak semua orang mengalami empathy.

Penelitian dilanjutkan dengan mengumpulkan orang-orang yang dinilai tidak mengalami empathy. Ketika dilakukan perlakuan yang sama seperti penelitian sebelumnya, ternyata hasil scan MRI tidak menunjukkan adanya reaksi apapun pada otak mereka ketika diperlihatkan kondisi-kondisi yang dialami oleh orang lain.

Yang menarik adalah, ketika mereka DIMINTA untuk sebisa mungkin merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang yang diperlihatkan, hasil scan MRI akhirnya menunjukkan hasil yang sama dengan hasil pada penelitian sebelumnya.

Ada pula penelitian di mana orang-orang (normal) yang terlibat diperlihatkan kondisi orang lain, tetapi dengan informasi tambahan. Informasi tambahan tersebut adalah label agama dari orang yang diperlihatkan. Hasilnya adalah hampir seluruh responden tidak mengalami reaksi apapun ketika diperlihatkan kondisi orang yang berbeda agama dengan mereka.

Ini menunjukkan bahwa ada orang-orang yang mengalami empathy dan ada orang yang tidak. Orang yang mengalami empathy dapat MEMATIKAN empathy-nya dan orang yang tidak mengalami empathy dapat MENYALAKAN empathy-nya. Artinya empathy dapat terjadi atau tidak terjadi kepada setiap orang, tetapi setiap orang memiliki kondisi awal yang berbeda-beda. Ada orang yang NORMALNYA mengalami empathy dan ada yang tidak.

Altruism

Altruism adalah kondisi, di mana seseorang lebih banyak memperhatikan dan mempertimbangkan keuntungan atau kerugian orang lain daripada dirinya sendiri dalam suatu keadaan yang melibatkan beberapa orang. Jika ia tidak memikirkan orang lain, artinya ia memiliki tingkat altruism yang rendah sudah pasti yang lebih banyak ia pikirkan adalah dirinya sendiri.

Altruism yang tinggi tidak berarti acuh dengan diri sendiri. Hanya saja, nalurinya mendorongnya untuk lebih banyak memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri. Altruism yang tinggi juga tidak serta merta membuat seseorang menjadi baik, karena altruism hanya membahas fokus seseorang, apakah pada dirinya sendiri atau orang lain.

Orang dengan altruism yang tinggi, bisa saja berpikiran untuk mencelakakan orang lain. Ia memikirkan tentang orang lain tetapi dalam konteks negatif, sementara dirinya sendiri tidak begitu ia perhatikan.

Sebaliknya, altruism yang rendah juga tidak membuat seseorang menjadi jahat. Bisa jadi ia memikirkan keuntungan untuk dirinya sendiri, tetapi ia mewujudkannya dengan cara membantu orang lain.

Misalnya, dalam agama islam, jika seseorang berlinfaq dengan niat mencari pahala dari Allah, bukan untuk kepentingan dunia seperti pujian orang, ia akan diberikan pahala yang besar yang akan menentukan kenikmatan apa yang akan ia dapatkan di surga (jika ia berhasil masuk surga) atau menjadi penghapus dosa-dosanya di masa lalu. Dengan begitu, seseorang dapat rajin beramal dan berbuat baik kepada sesama manusia tanpa benar-benar memikirkan keuntungan atau kerugian orang lain (ia hanya peduli dengan pahala dari Allah).

Kemudian, sama seperti faktor yang lain, altruism hanya diukur ketika seseorang berada dalam keadaan tidak didukung dan tidak terhalang untuk menunjukkan altruism-nya.

Dalam keadaan sedang terancam atau tersakiti, umumnya setiap orang akan menunjukkan altruism yang rendah. Ini adalah hasil yang hampir bisa dipastikan terjadi sehingga kita tidak dapat menilai seseorang dalam keadaan ini.

Begitu juga dalam keadaan di mana seseorang dituntut untuk memikirkan keadaan orang lain seperti dalam konteks keagamaan atau game kompetitif. Maka, dalam konteks seperti itu, kita tidak dapat menilai altruism seseorang.

Paranoia

Paranoia adalah tingkat kepercayaan seseorang terhadap informasi yang ia terima, bukan dari orang yang ia percaya dan bukan pula dari orang yang tidak ia percaya.

Semakin tinggi tingkat paranoia seseorang, maka ia akan semakin cenderung untuk menolak informasi yang orang lain berikan tanpa bukti. Terkadang, seseorang memiliki tingkat paranoia yang sangat tinggi sehingga ia menolak semua pernyataan kecuali orang yang ia percaya, meskipun, secara nalar, pernyataan ia tolak itu tidak salah. Untuk kasus yang ekstrem, ditambah dengan logical reasoning dan openmindedness yang rendah (kedua faktor ini akan dijelaskan belakangan), bukti nyata pun akan ditolak, jika tidak berasal dari orang yang ia percayai.

Sebaliknya, orang dengan tingkat paranoia yang rendah akan lebih mudah untuk memercayai informasi yang orang lain berikan, kecuali jika ia tau pasti kesalahannya.

Independence

Independence adalah tingkat ketidakinginan seseorang dalam meminta dan menerima bantuan dari orang lain untuk mengerjakan suatu pekerjaan atau memikirkan suatu masalah. Semakin tinggi tingkat independence seseorang, semakin ia enggan untuk meminta atau menerima bantuan dari orang lain, vice versa.

Independence hanya diukur pada kondisi yang memungkinkan seseorang untuk meminta bantuan dan tidak ada anjuran apapun untuk hal itu. Jika ada anjuran untuk meminta bantuan atau ada penghalang untuk itu, kita tidak dapat mengukur tingkat indepencence seseorang. Penghalang yang dimaksud, bisa berupa banyak hal, seperti rasa malu, rasa benci, jijik, trauma, kekhawatiran, dan lain sebagainya.

Selain itu, tingkat independence seseorang sebaiknya diukur pada masalah atau pekerjaan yang ia anggap penting. Ini karena ada beberapa orang dengan tingkat independence tinggi yang berada dalam kondisi bisa mengerjakan pekerjaan mereka sendiri, tetapi mereka malah menunjukkan sikap yang berlawanan karena faktor tertentu, misalnya ingin menjahili orang lain, atau ingin merasakan sensasi memerintah, dan lain sebagainya. Untuk mengurangi kemungkinan tersebut, sebaiknya kita menggunakan permasalah yang dianggap penting oleh orang yang kita nilai. Orang yang memiliki tingkat independence tinggi tentunya tidak akan rela jika pekerjaan yang penting bagi mereka dikerjakan oleh orang lain sementara mereka sendiri sanggup untuk mengerjakannya. Jika seseorang masih menerima bantuan yang sebenarnya tidak begitu diperlukan dalam kondisi tersebut, kemungkinan besar ia memiliki tingkat independence yang rendah.

Privateness

Privateness adalah kondisi di mana seseorang tidak ingin hal privasi miliknya diketahui atau dibicarakan oleh orang lain. Hal privasi di sini adalah hal yang sangat relatif, tergantung dari pengetahuan dan sudut pandang masing-masing orang. Bisa jadi suatu hal dianggap privasi bagi sebagian orang dan dianggap bukan privasi bagi sebagian yang lain, misalnya umur atau hasil ujian. Oleh karenanya, ketika melakukan penilaian, kita harus memastikan terlebih dahulu apakah sesuatu itu memang dianggap privasi atau bukan oleh orang yang kita nilai.

Orang dengan privateness yang tinggi sangat tidak ingin hal privasi miliknya diketahui oleh orang lain. Bahkan, terkadang, hal yang tidak ia anggap sebagai privasi pun enggan ia tunjukkan, misalnya wajahnya. Sebagai dampaknya, ia akan cenderung untuk tidak ingin tampil atau dilihat orang lain jika memang tidak mendesak atau tidak ada kepentingan yang berarti baginya. Selain itu, orang dengan privateness yang tinggi juga cenderung untuk memiliki lebih banyak hal yang dianggap privasi daripada orang dengan tingkat privasi yang rendah.

Sementara itu, jika seseorang memiliki tingkat privateness yang rendah, itu tidak berarti bahwa ia tidak memiliki privasi. Setiap orang pasti punya privasi yang tidak ingin diketahui oleh orang lain, hanya saja, jumlah privasi dan tingkat keketatannya akan berbeda antara orang yang satu dengan orang yang lain.

Social Quantity

Social quantity adalah preferensi banyaknya hubungan sosial yang dijalani oleh seseorang. Hubungan sosial yang dimaksud bisa berupa aktivitas apapun yang membuat seseorang berinteraksi langsung dengan orang lain.

Sementara itu, social quality tidak akan dibahas dan tidak akan dianggap sebagai faktor kepribadian. Ini karena sejatinya setiap orang menginginkan kualitas hubungan sosial yang baik. Siapa orang aneh yang sudi mendamba-dambakan pertemanan yang palsu dan kotor? Tentunya hampir dipastikan tidak mungkin ada. Meskipun ada orang yang tidak begitu peduli dengan hubungan sosial, hampir bisa dipastikan bahwa ia akan lebih memilih kualitas hubungan sosial yang baik daripada yang buruk. Karena ini hampir bisa dipastikan untuk setiap orang, kita tidak perlu membahasnya.

Orang yang memiliki social quantity rendah akan cenderung cepat jenuh dengan banyaknya aktivitas yang melibatkan interaksi dengan orang lain. Akan tetapi, hal ini tidak berarti mereka tidak menginginkan hubungan sosial sama sekali karena sejatinya kita semua adalah makhluk sosial. Banyak atau sedikit, kita akan tetap membutuhkan hubungan sosial dengan orang lain.

Orang dengan social quantity yang rendah sering diasosisikan dengan intovert. Biasanya, orang akan menilai dirinya introvert begitu mendapati social quantity yang rendah pada dirinya (tanpa memperhatikan atau bahkan mengetahui pembahasan ini). Ini tidak salah, hanya saja, dalam pembahasan introvert, biasanya ada banyak aspek yang terlibat sementara social quantity hanya salah satunya.

Ada banyak contoh di lingkungan kita, juga di kalangan tokoh-tokoh publik, di mana seseorang mengaku sebagai introvert meskipun terlihat sangat aktif dalam hubungan sosial. Mungkin ia suka berbicara. Mungkin ia sering memerintah. Mungkin ia sering melakukan hal-hal memalukan. Akan tetapi, ia menilai dirinya sebagai introvert karena social quantity-nya. Itulah sebabnya, mengapa ada beberapa orang yang diberi label introvert (baik oleh orang lain maupun oleh dirinya sendiri) tetapi tidak terlihat seperti introvert. Mereka berfokus kepada social quantity untuk menentukan sifat introvert mereka.

Expressiveness

Expressiveness adalah tingkat keinginan seseorang untuk mengungkapkan isi pikirannya kepada orang lain.

Orang dengan expressiveness tinggi akan lebih sering berbicara daripada mereka yang memiliki expressiveness rendah. Ketika ada sesuatu yang terpikirkan oleh mereka, mereka akan cenderung untuk mengungkapkannya kepada orang lain, kecuali jika ada penghalang untuk itu.

Dalam suasana yang memang tidak memungkinkan seseorang untuk berbicara, orang dengan expressiveness tinggi tidak akan berbicara. Misalnya, hanya ada orang-orang asing atau orang-orang yang tidak begitu dekat dengannya di sekitarnya. Bisa juga, apa yang terpikirkan olehnya adalah hal yang tidak layak untuk dibicarakan seperti kejadian yang memalukan. Dalam kondisi-kondisi seperti itu, ada kemungkinan orang dengan expressiveness tinggi akan diam, tergantung dari faktor kepribadiannya yang lain, seperti social quantity-nya atau privateness-nya.

Sementara itu, orang dengan expressiveness rendah akan cenderung untuk menyimpan apa yang ada di dalam pikirannya, kecuali memang ada keperluan untuk mengungkapkannya. Keperluan di sini bisa beragam, termasuk keinginan untuk mencairkan suasana. Bisa jadi, dalam suatu perkumpulan, yang memulai percakapan adalah orang dengan expressiveness yang rendah dan ia melakukannya hanya karena tidak ingin suasana menjadi canggung tanpa ada yang bicara; hanya ingin mencairkan suasana.

Sama seperti faktor yang lain, expressiveness juga harus dinilai dalam keadaan netral untuk mengurangi kesalahan dalam penilaian.

Courageousness

Courageousness adalah tingkat keberanian seseorang dalam menghadapi suatu yang dianggap masalah atau bahaya. Masalah dan bahaya di sini sangat relatif, kurang lebih seperti hal privasi pada faktor privateness. Ada hal-hal yang dianggap masalah dan bahaya bagi sebagian orang, tetapi tidak bagi sebagian yang lain, tergantung pengetahuan dan pengalaman mereka.

Emotional Positivity

Emotional Stability

Confident of Choice

Confident of Result

Tension on Quality

Tension on Quantity

Perfectionism

Spontanity

Persistence

Desire of Reward

Abstract Thinking

Imagination

Logical Reasoning

Curiosity

Openmindedness

Referensi

Comments

Popular posts from this blog

Review Laptop Bekas: Lenovo ThinkPad X230 (Versi Jepang)| Bagaimana Performanya di Tahun 2022?

Luka