Shippo Pulang
Pada Awalnya
Sejak semester lalu, aku selalu menginginkan laptop baru. Sayangnya, aku belum bekerja sehingga tidak punya penghasilan untuk membeli laptop. Malah, aku membutuhkan laptop untuk mulai bekerja. Lingkaran kerja-supaya-bisa-beli-laptop-supaya-bisa-kerja ini tidak ada ujungnya; membuat kepalaku pusing setiap kali memikirkannya. Jelas, aku hanya bisa mengandalkan uang orang tuaku. Meski begitu, tetap saja laptop yang kuidamkan tidak bisa terbeli. Bukannya tidak mau, malah, kita semua mau. Hanya saja, tidak bisa.
Bulan yang satu digantikan bulan yang lain; terus begitu hingga menjelang akhir tahun. Aku selalu merengek, berharap, dan berdoa. Seringkali aku menghibur diri dengan menonton review laptop di YouTube. Entahlah. Antara menghibur diri atau menyiksa diri, tetapi itu yang terjadi. Semua itu kulewati hingga aku sampai di pertengahan Desember, di mana kegiatan kantor yang diikuti mamaku akhirnya selesai; sekitar 3 bulan lamanya. Setelahnya, tunas baru mulai mencuat dari batang yang sudah layu.
“Mak, kapan ya bisa beli laptop...”
“Hmm... sekarang bisa, Bah.”
“Ehh?? Iya kah, Mak?”
“Iya, Mama dapat uang saku dari kegiatan kemarin."
Ternyata, dari kegitan yang mamaku ikuti, ia mendapatkan cukup banyak uang saku. FINALLY. Aku mulai menenangkan diri, mengatur napas, karena ada rasa senang yang sulit dijelaskan. Aku sudah merasa bahwa ini tidak akan mungkin bisa terjadi dalam waktu dekat dan sama sekali tidak ada pikiran kalau kegiatan yang mamaku ikuti akan mendatangkan uang. Setahuku, itu malah menghabis-habiskan uang karena harus membuat program ini dan itu supaya bisa lulus dan mendapat sertifikat... Ternyata, mamaku tidak hanya lulus dan mendapat sertifikat, tetapi juga mendapat benih ajaib yang akan menumbuhkan laptop baru dari dalam tanah subur Tokopedia (akwowkowkw).
Kini Saatnya
Hari yang ditunggu tiba, 17 Desember 2021. Aku, untuk kesekian kalinya, membuka wishlist Tokopediaku yang penuh dengan laptop. Aku memilih satu produk yang sudah lama ingin kubeli. Akan tetapi, kali ini bukan hanya dipelototi; kali ini akan benar-benar dibeli. Aku sadar, bahwa uang yang kita miliki tidak sebanyak itu, jadi aku pilih yang second dengan spesifikasi sedang. Menurutku, sih, sedang:
- Lenovo ThinkPad X230
- Intel Core i5 3320M
- RAM 8GB
- SSD 120GB
Kenapa Lenovo? Karena ThinkPad itu keluaran Lenovo. Aku lebih fokus ke ThinkPad-nya.
Kenapa ThinkPad? Harga murah dan sangat-sangat-sangat banyak review positif terkait durability-nya di YouTube. Masalahnya, ini barang second. Kita butuh barang yang terbukti tahan lama. Merek lain juga sepertinya ada yang tahan lama, seperti Dell Latitude atau HP EliteBook. Hanya saja, Lenovo ThinkPad paling banyak, menurutku, review-nya.
Kenapa i5? Kalau i3, aku takut performanya jelek untuk program-program yang akan kujalankan seperti QGIS, sejenis SPSS, mungkin IDE, dan video/photo editor. Yang ada, aku hanya akan menyesali penghematan beberapa ratus ribu yang kulakukan. Kalau i7, aku cukup yakin performanya tidak beda jauh dari i5, berdasarkan review benchmark yang beredar di YouTube. Memang lebih baik, tetapi hanya sedikit dan tidak signifikan. Lagipula, ini Intel Core generasi lama, generasi ke-3, sehingga aku memang tidak perlu mengharapkan performa yang terlalu tinggi. Begitulah, i5 cukup ideal menurutku.
Kenapa 8GB? Karena ini laptop lama. Kita tidak tahu bagaimana kondisi mesinnya. Komputer yang sering kulihat saat ini, biasanya memiliki RAM 4GB. RAM sebesar itu akan terpakai hampir seluruhnya sepanjang waktu, meskipun tidak digunakan. Kalau komputer-komputer itu didiamkan begitu saja, tidak digunakan untuk apapun, RAM yang terpakai sudah 2 koma sekian. Aku tidak ingin mengambil risiko besar untuk laptop lama. Bisa saja karena performanya yang sudah turun, lebih dari 70% RAM akan terpakai tanpa membuka aplikasi apa pun. Kalau sudah begitu, baru membuka satu atau dua program, komputer bisa jadi sudah macet. Menurutku, 8GB adalah angka yang relatif aman.
Kenapa harus SSD 120GB? Setahuku, SSD itu lebih tahan guncangan dari HDD. Untuk pengiriman jauh Jakarta Pusat – Kalimantan Utara, aku tidak yakin barang yang dikirim tidak akan banyak menerima guncangan. Daripada laptop yang baru sampai sudah tidak bisa menyala akibat HDD yang terlalu banyak diguncang selama perjalanan, lebih baik kita menambah sedikit biaya untuk meningkatkan keamanannya. Akan tetapi, rasa sakitnya tidak berhenti hanya sampai di situ. Kapasitas yang tersedia akan menyusut lebih dari 60%; dari 320GB HDD, kini tinggal 120GB SSD; bukan hanya mengorbankan uang lebih, tetapi juga mengorbankan kapasitas penyimpanan. Meskipun begitu, menurutku bukan masalah karena aku hanya perlu untuk menghemat penyimpanan yang tersedia. Lagipula, 120GB seharusnya tidak akan habis secepat itu, kecuali aku menyimpan banyak foto dan video.
Setelah puas memilih, saatnya untuk tahapan berikutnya: basa-basi. Untuk mengurangi risiko miskomunikasi, barang yang jelek, penipuan, dan sebagainya, aku ingin melakukan videocall terlebih dahulu.
“permisi, apa benar ini apollo?”
Chat-ku tidak dibalas saat itu juga, mungkin karena sudah malam. Keesokan harinya, ada balasan.
“Iya benar. Bisa di bantu”
“saya rencananya mau beli yg ini, stoknya masih ada kah? (gambar terkirim). mau tanya2 dulu”
“Masih ada ka”
“jadi, kan saya baca review, banyak yg bilang barangnya bagus, tapi ada juga yg kena sial barangnya minus seperti retak, karat, dll. sebelum, beli, bisa kah video call dulu buat liat barangnya? soalnya saya di kalimantan utara, kalau barangnya kenapa2, takutnya susah ngurus garansinya,”
“Iya bisa , nanti di vidiovall ka. Barang kita sdh di QC ka , selama ini aman bagus ka”
“jam berapa ya bisa video call kira2?”
“Jam 9 baru buka ka tokonya”
Begitulah. Hari itu juga, aku menelepon pihak toko; menanyakan kondisi barangnya, melihat langsung barangnya (dengan resolusi videocall WA. Harusnya bisa lebih bagus kalau aku minta fotonya juga, tapi kemarin gak kepikiran), memesan konfigurasi dual channel RAM, meminta pengiriman yang aman, dan lain sebagainya.
Sebenarnya, tujuanku hanya 3: memastikan toko dan barangnya benar-benar ada (1), memesan secara langusng konfigurasi dual channel RAM (2), dan meminta secara langusng kepada penjual agar melakukan pengiriman dengan hati-hati, dengan aman (3). Selain dari ketiga hal tersebut hanyalah basa-basi; basa-basi yang benar-benar menambah rasa tenang juga, sebenarnya. Yang jelas, semua tujuanku sudah terpenuhi dan ini adalah saat yang tepat untuk benar-benar membelinya.
Hari itu dipesan, hari itu juga diantar ke jasa pengiriman. Sekarang, tinggal menunggu barangnya sampai. Estimasi 3 sampai 8 hari. Sampai tanggal 21 – 26 Desember 2021.
Datang Gak Ya?
Di sini, aku tidak henti-hentinya membayangkan kedatangan laptopku. Bahkan kuberi nama: Shippo-san.
“Hmm... Kapan Shippo-san sampai ke sini ya...”
Aku mungkin agak berlebihan, tetapi aku benar-benar mengecek status pengirimannya setiap beberapa menit sekali; setiap sejam sekali; tidak ada satu hari pun aku absen dari mengecek status pengiriman, terlepas dari sebanyak apa aku meyakinkan diriku kalau itu tidak ada gunanya. Bukan hanya tidak ada gunananya, bahkan itu juga menumbuhkan rasa khawatir yang pekat dalam kepalaku karena ada saat di mana pengiriman sama sekali tidak berjalan selama beberapa hari.
“Kok sudah 3 hari masih di sini, sih? Hilang kah barangnya?”
Rasa takut menghampiriku setiap kali aku mengecek status pengiriman barang, dan aku benar-benar mengeceknya puluhan kali selama masa pengiriman. Dan benar saja, memang ada sesuatu yang tidak beres dalam pengirimannya.
Hari terakhir estimasi, tanggal 26, status pengiriman barangku masih sama seperti update terakhir di tanggal 23 dengan keterangan “departed”, berangkat. Berangkat selama 3 hari dan tidak sampai ke mana pun? Aku tidak begitu menyadari kejanggalan ini karena saat aku menghubungi pihak jasa pengiriman ini, mereka tidak bereaksi dengan satus “departed” yang lebih dari 1 hari. Kukira, departed memang bisa berarti diam di satu kota untuk menunggu keberangkatan, bukannya benar-benar berangkat. Ternyata, bahkan sampai keesokan harinya, status pengiriman barangku masih belum berubah. Padahal masih ada satu kota lagi yang harus dituju sebelum benar-benar sampai ke kotaku. Jelas ini tidak akan sampai dalam waktu dekat. Kuputuskan untuk mengirim email pelaporan keterlambatan. Orang tuaku juga jadi sangat khawatir karena keterlambatan yang tidak wajar ini dan berniat untuk melaporkannya juga.
Di hari Senin, setelah shalat ashar, aku putuskan untuk pergi ke taman dekat rumahku untuk membaca dzikir petang. Sangat jarang aku membaca dzikir petang, tetapi entah mengapa, hari itu aku merasa ingin membacanya. Aku pergi ke taman dengan terlebih dahulu membeli minuman. Rencananya, aku akan membaca dzikir petang sambil menikmati ketenangan di taman dan ditemani minuman dingin. Setelah sampai, aku sadar kalau ekspektasiku salah. Banyak motor yang lewat di samping taman sehingga tidak hening sama sekali serta banyak nyamuk sehingga tidak menenangkan. Satu-satunya yang sesuai dengan harapanku adalah minumanku. Untung saja minuman itu terasa nikmat.
Dan Tiba-Tiba...
Baru saja aku mulai membaca, mungkin hanya beberapa menit, handphone-ku berbunyi.
“Bah, pulang, laptopnya sudah sampai.”
“...“ aku berusa mencerna apa yang mamaku katakan. “Sudah sampai... Kok bisa...”
“Iyaa, Ayah yang ambil. Pokoknya cepatlah ikam pulang, kita unboxing.”
“Um... iya, iya, sebentar pulang.”
Anehnya, aku tidak merasa sesenang yang seharusnya. Aku bingung. Apa yang terjadi? Status pengirimannya masih tidak berubah, sama seperti 4 hari yang lalu. Yang jelas, aku mengikuti perintah mamaku dan segera pulang.
Di rumah, aku mulai merasakan sensasi kesenangannya, karena ada kotak kayu besar di lantai. Dia benar-benar sudah datang! Shippo-san sudah pulang! Aku bertanya apa yang terjadi tetapi ayahku enggan menceritakannya.
“Ini namanya usaha. Pokoknya cepatlah buka dulu, biar cepat selesai urusan.”
“Iya, iya, oke.”
Akhirnya aku dan ayahku membuka bungkus kayu tersebut serta membuat video unboxing sebagai bukti kalau-kalau ia rusak. Ternyata, diluar dugaanku, ia benar-benar terlihat menawan. Hanya ada sedikit lecet di bagian sudut dan bawahnya (ada juga penyok tipis ke bagian dalam seperti kertas lecek di bagian bawah, tetapi sangat tipis, tidak begitu terlihat, bahkan aku tidak menyadarinya sampai keesokan harinya), tetapi selebihnya bagus seperti baru dilahirkan. Aku sedikit terharu, karena ini benar-benar di luar ekspektasiku. Kukira akan ada banyak lecet dan stiker di mana-mana. Mungkin sedikit retakan di bagian tubuh utama. Ternyata tidak. Shippo-san terlihat sangat menawan seperti laptop baru.
Setelah dinyalakan, kesenanganku bertambah karena Shippo memasuki windows dengan cepat. Ia juga membuka ini dan itu dengan cepat. Double klik, terbuka. Double klik, terbuka. Tentu saja ada lag sesekali (seperti laptop pada umumnya, secepat apapun, pasti ada momen lag entah apa sebabnya), tetapi tidak ada yang sangat berarti. Bukan hanya tampilan fisiknya, performa Shippo juga seperti laptop baru.
Hanya ada 2 hal yang menunjukkan bahwa laptop ini keluaran lama: design-nya yang tidak seperti laptop keluaran terbaru dan baterainya yang sangat boros. Pemakaian normal seperti mengetik dan browsing internet hanya bisa bertahan selama kurang dari 2 jam. Namanya juga laptop second, tentunya kita tidak bisa berharap terlalu banyak. Bahkan, laptop baru pun pasti memiliki kekurangan yang harus diterima dengan lapang dada. Malah, aku bisa bilang performa dan kondisi fisiknya menutupi seluruh kekurangan yang lain. Bahkan, kalau kita hanya melihat performanya, beberapa laptop baru yang harganya murah (terhitung murah, tapi bisa 2 kali lipat harga Shippo) sudah dikalahkan oleh Shippo.
Aku tidak bisa menahan rasa senangku sekarang. Aku tersenyum sepanjang sore (tentu saja tidak secara harfiah, yang jelas ini tidak seperti biasanya). Aku mengatakan berkali-kali kepada orang tuaku kalau sekarang aku sudah punya laptop (aku sengaja. Ayolah, ini lucu). Aku tentunya juga mengucapkan Alhamdulillah berkali-kali sebagai rasa syukur karena Shippo datang dengan selamat dan ternyata terlihat sangat menwan. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk menunjukkan rasa syukurku.
Tapi Kok Bisa Tiba-Tiba Sampai?
Setelah keadaan kembali normal (nuansa kedatangan Shippo sudah selesai), aku kembali bertanya terkait apa yang terjadi.
“Kalau Ayah gak datangi, bisa sebulan ini di sana.”
“Iya kah? Kok bisa? Tadi Ayah masuk ke gudangnya kah?”
“Iya.”
“Iya?”
“Enggak.”
“Lah...”
Jadi ayahku mulai bercerita tentang apa yang terjadi. Ayahku datang ke tempat pengambilan barang itu 2 kali. Yang pertama, ayahku datang menanyakan status pengirimannya. Jawaban yang mereka berikan, sama seperti yang mereka berikan kepadaku beberapa hari lalu. Akan tetapi, tidak sepertiku yang bertanya hanya sampai di situ, ayahku mendesak mereka untuk memberikan alasan kenapa status “departed” itu tidak berubah selama 4 hari. Mereka juga tidak tahu. Akhirnya mereka memberikan nomor kontak CS kepada ayahku (apa itu CS, aku juga tidak tahu). Ayahku kembali ke kantornya dengan tidak puas.
Di kantor, ayahku berkali-kali berusaha menghubungi si CS ini, tetapi tidak ada jawaban. Karena kesal karena tidak diangkat, setelah pulang kantor, ia kembali lagi ke tempat pengambilan barang tadi. Penasaran. Kini ayahku semakin mendesak mereka agar memberikan alasan. Mereka tetap tidak punya alasan. Bagaimana mungkin mereka memberikan alasan terhadap sesuatu yang mereka juga tidak tahu? Akan tetapi, akhirnya, satu di antara mereka mengalah.
“Hmm... Ini barang packing kayu ya, Pak?”
“Saya tidak tahu. Yang jelas, isinya laptop.”
“Sebentar saya cek, Pak.”
Tidak lama kemudian, ia keluar dari gudang membawa kotak kayu besar.
“Ini, Pak...”
Ayahku juga tidak mengerti apa yang terjadi, tetapi adanya kotak itu di hadapannya memaksanya untuk tersenyum. Akhirnya, ia pulang dengan rasa puas.
Tentu saja ini adalah kebetulan; kebetulan yang telah direncakan oleh Yang Maha Kuasa 50.000 tahun sebelum dunia diciptakan. Maksudnya, kenapa ayahku sampai punya pikiran untuk kembali? Padahal sudah jelas mereka juga tidak mengerti. Kenapa satu orang tadi berinisiatif untuk mengecek gudang? Dari mana dia tahu kalau barang itu mungkin sudah ada di gudang? Di gudang itu, ada banyak sekali barang dan tulisan resi pengiriman barangku ada di bagian dalam kotak kayu (renggang, tidak begitu rapat. Kita bisa melihat isi kotak kayu itu dari luar, tetapi sulit membukanya) yang mana cukup sulit untuk terlihat. Bagaimana dia bisa dapat? Pasti ada yang mengatur sehingga itu semua bisa terjadi, berurutan. Satu rangkaian saja yang gagal, ceritanya akan berubah.
Apapun yang terjadi, aku sangat bersyukur karena Shippo datang dengan selamat. Shippo ada di sini, itulah yang paling penting. Aku harap dengan fisik dan performanya yang bagus ini, ia bisa membantuku untuk mengerjakan tugas-tugasku dan juga tugas-tugas orang tuaku. Aku harap ia menjadi laptop yang berkah dan bermanfaat untuk waktu yang panjang.
Comments
Post a Comment