Nugas Bareng IndiHome
Kemarin adalah hari yang sangat-sangat-sangat panjang. Hari Minggu (bahkan Senin!) yang melelahkan... Maksudku, 12 jam lebih untuk tugas kuliah itu, tidak wajar, kan?
Mentari Bersinar
Pagiku diawali dengan kegiatan-kegiatan biasa; berjalan-jalan, membuang sampah, bermain dengan adik. Sebenarnya itu adalah hal yang cukup jarang kulakukan di Minggu pagi. Akan tetapi, tetap saja, kegiatan-kegiatan biasa.
Kegiatan yang melelahkan dimulai di siang hari. Setelah temanku bertanya tentang tugas pemrograman yang harus dikumpulkan tengah malam nanti, aku memutuskan untuk ikut mengerjakannya.
Sebenarnya aku merasa cukup 'jago' dalam pemrograman, sehingga seharusnya tugas itu dapat kuselesaikan dalam waktu 1 jam atau 2 jam. Aku bisa membantu tugas temanku meskipun aku sendiri belum mengerjakan bahkan seperempatnya. Memangnya sesusah apa? Hanya program untuk mengurutkan sebanyak N data dengan 4 metode pengurutan data yang sudah disediakan sebelumnya (1) juga membuat modifikasi agar pengurutan data bisa didasarkan oleh atribut pada record mahasiswa yang diinput oleh user (2). Cukup sederhana. Kukira...
Sekitar jam 11 siang (atau pagi(?)) aku mulai menulis kode, tentunya hanya dengan HP kesayanganku. Bukan, HP bukan merek laptop, tetapi HP adalah nama benda berbentuk kotak seukuran telapak tangan dengan OS android. Siapa bilang pemrograman harus menggunakan laptop? Aku telah melewati 4 mata kuliah pemrograman di 2 perguruan tinggi hanya dengan HP (dan sesekali laptop temen)!
Menurutku, ini adalah hal yang sangat menarik karena pada dasarnya, membuat program hanyalah kegiatan mengetik kata-kata dengan aturan tertentu. Yang kita butuhkan hanyalah akses Internet Cepat untuk mencari dan mempelajari aturan-aturan penulisannya. Sementara itu, jika sudah dikuasai, ilmu pemrograman dapat digunakan untuk membuat berbagai program yang akan membuat dunia kita menjadi lebih modern. Bukankah ini luar biasa?
Untuk mempelajari pemrograman, untuk memajukan peradaban, kita tidak perlu perangkat super mahal. Dengan akses internet yang cepat, kita semua dapat melakukan Aktivitas Tanpa Batas kapan pun, di mana pun, dengan apa pun.
Dengan IndiHome yang terpasang di rumah, aku bisa mempelajari aturan-aturan penulisan bahasa pemrograman dengan mudah. Untuk menjalankan program yang sudah kutulis, aku menggunakan aplikasi yang dengan mudah didapatkan di Google Play Store (nama aplikasinya : cxxdroid; untuk bahasa C/C++). Terima kasih Internetnya Indonesia. Dengan begini, bagiku, HP sudah lebih dari cukup.
Menit demi menit kulewati. Denyut demi denyut di kepalaku yang memanas kunikmati. Kedua ibu jariku dengan lihai menuliskan kata demi kata, kode demi kode. Semuanya kulakukan hanya di atas kasur sembari bersandar kepada dinding. Setidaknya, sampai ibuku mengajakku dan adikku untuk makan bakso di luar.
Di mobil, aku masih sibuk menuliskan kode. Di warung bakso, aku masih sibuk menuliskan kode. Aku tidak memesan makanan, tetapi hanya menunggu bakso adikku yang tidak habis. Hitung saja 5 menit ketika dia mulai makan lalu kita akan temukan dia kenyang dengan bakso yang seolah tidak berkurang. Di perjalanan pulang, dan setelah sampai di rumah, aku masih sibuk menuliskan kode.
Memang, ada selingan shalat, makan, mengagumi wajahku, ini, dan itu, tetapi tetap saja ini di luar ekspektasiku. Jarum panjang menunjuk ke angka 6, sementara jarum pendek menunjuk ke angka 5 lewat sedikit. Oh Tuhan, aku mengerjakan tugasku selama lebih dari 6 jam!
Aku memang sedikit (oke, maksudku sangat) perfeksionis; melakukan pengecekan berulang-ulang yang sebenarnya tidak begitu diperlukan, dan memastikan seluruh teks terlihat rapi meskipun tidak ada kaitannya dengan jalannya program. Itu membuat waktu pengerjaanku beberapa kali lipat lebih lama dari yang seharusnya. Akan tetapi, tetap saja, tugasku selesai dan aku dapat tersenyum dengan puas.
Namun, di sisi lain, aku terkadang (oke, maksudku terlalu sering) menunda-nunda pekerjaan. Coba tebak, itu adalah 1 dari 3 tugas yang harus kuselesaikan malam itu juga! Inilah yang membuat hariku menjadi panjang: tugas-tugas yang aku acuhkan selama berhari-hari. Program yang kubuat selama 6 jam tadi ternyata hanyalah pembukaan! Kurasa, fakta ini membuat senyumku memudar.
Mentari Menghilang
Jadi, setelah menyelesaikan tugas pemrograman, aku beralih ke tugas ke-2 dan ke-3: statistika. Akan tetapi, aku bukan tipe orang yang mengerjakan tugas asal selesai. Aku harus mengerti konsep dasarnya, apa yang terjadi, dan apa maksud dari tugas yang kukerjakan. Karenanya, aku tidak bisa langsung mulai mengerjakan tugas statistikaku. Aku menemui teman kesayanganku terlebih dahulu, YouTube.
Aku mulai mencari materi yang ditanyakan dalam tugasku. Untungnya, IndiHome punya akses Internet yang bagus. Mereka bilang, Internetnya untuk Gamer. Aku memang bukan gamer, tetapi Internetnya untuk Gamer seharusnya sudah lebih dari cukup untuk menonton materi statistika dalam resolusi tinggi. Maksudku, siapa yang tahan menonton kumpulan rumus dalam resolusi tahun 80-an? Bukan aku.
Meskipun IndiHome memberiku resolusi video yang bagus, ternyata mencari penjelasan materi statistika yang bagus di YouTube tidak semudah memilih resolusi video. Aku selalu mencari penjelasan yang mendasar, yang membahas konsep dasar. Big NO untuk penjelasan dari orang yang hanya membaca PPT. Sayangnya, kebanyakan video pembelajaran yang ada memang begitu.
Padahal, cara untuk belajar yang paling baik adalah dengan memahami first principle dari sesuatu, yaitu sebuah asumsi atau pengetahuan yang sederhana dan tidak perlu diturunkan atau dibuktikan lagi (bahkan tidak bisa, karena terlalu sederhana).[1] Apabila tidak bisa sampai kepada first principle, paling tidak, kita berusaha menguraikan suatu keadaan (atau rumus) sebanyak yang kita bisa dengan menghujaninya dengan pertanyaan "kenapa?". Ide tentang first principle pertama kali dikemukakan oleh Aristotle dalam bukunya "Physics" dan masih relevan hingga saat ini[1].
Ada pula first principles reasoning yang artinya adalah menguraikan suatu masalah untuk mencari first principle, mencari asal muasal suatu keasaan (atau rumus), kemudian mengolahnya kembali menjadi informasi lain untuk memecahkan masalah yang kompleks[1].
First principles reasoning adalah pola pikir yang sangat berguna dalam memahami ilmu apa pun, atau dalam hal ini, statistika. Dengan pola pikir ini, kita dapat mengerti dari mana rumus berasal, apa hakikatnya, apa kegunaan sebenarnya, dan bagaimana untuk menerapkannya atau bahkan mencari penggantinya dalam mengerjakan soal.
Ini berkebalikan dengan reasoning by analogy, di mana suatu keadaan (atau rumus) diulang atau dipakai berkali-kali dan, dibiarkan apa adanya atau diberi sedikit perubahan[1]. Contoh nyata dari pola pikir ini adalah membaca rumus di PPT dan menggunakannya begitu saja tanpa mengetahui apa maksudnya. Pola pikir seperti ini tidak akan memberikan pemahaman terkait apa yang sebenarnya terjadi. Yang kita lakukan hanya memakai atau mengulang sesuatu secara praktis. Sayangnya, sekali lagi, pola pikir ini lebih banyak penganutnya jika dibandingkan dengan first principles thinking.
Meskipun begitu, tidak banyak tidak sama dengan tidak ada. Meskipun hanya ada 1 atau 2 video yang memberikan penjelasan yang bagus, kurasa itu sudah cukup untuk menambah pemahaman terkait materi yang kupelajari. Bahkan, karena beberapa video berdurasi lebih dari 20 menit dan untuk memahaminya, aku membutuhkan waktu yang lebih lama lagi, aku menghabiskan terlalu banyak waktuku untuk mempelajari materi dariapada benar-benar mengerjakan tugasku.
Tidak masalah, seperti kata Einstein, "If I had an hour to solve a problem and my life depended on the solution, I would spend the first 55 minutes determining the proper question to ask… for once I know the proper question, I could solve the problem in less than five minutes."[2]
Akhirnya, aku berhasil menyelesaikan tugasku sekitar jam setengah 2 malam... Itu pun karena aku sudah terlalu mengantuk. Tidak terbayang sebelumnya, kalau aku akan mengerjakan pekerjaan perkuliahanku selama lebih dari 12 jam (itu bahkan sudah bukan hari Minggu)! Ini adalah salah satu pengalaman yang paling menguras pikiranku. Meskipun ini bukan tugas yang paling bagus yang pernah kukerjakan, tetapi setidaknya selesai, dan aku mendapatkan cukup banyak pemahaman terkait materi yang kupelajari.
Itu semua melelahkan, tetapi aku tidak menyalahkan siapa pun. Akulah yang paling pantas untuk disalahkan karena menelantarkan pekerjaan-pekerjaanku. Mereka yang kuacuhkan itu kemudian terkumpul menjadi bom waktu yang siap untuk menjatuhkanku. Bagaimana mungkin aku menyalahkan orang lain?
Aku juga belajar untuk tidak meremehkan apapun. Mungkin aku berhasil melewati banyak hal di masa lalu, tapi dunia selalu punya kejutan yang tidak bisa kita duga. Bersikap arogan hanya akan membuat kita terlihat bodoh pada waktunya.
Kemarin, aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Aku penasaran, pelajaran apa lagi yang akan kudapatkan di hari esok?
Referensi
- First Principles: The Building Blocks of True Knowledge.(n.d.). Diakses pada 7 Desember 2021 dari Farnam Street: https://fs.blog/first-principles/
- Einstein and Questioning: Exploring the Inquiring Mind of One of Our Greatest Thinkers.(n.d.). Diakses pada 7 Desember 2021 dari A More Beautuful Question: https://amorebeautifulquestion.com/einstein-questioning/
Comments
Post a Comment